Makalah Alasan Perdagangan Internasional yang Dilakukan Suatu Negara

A.    Alasan suatu Negara melakukan perdagangan internasional
Kegiatan ekonomi internasional dapat dilihat dari 2 sudut pandang yaitu (1) teori murni perdagangan internasional (2) Teori moneter untuk perdagangan internasioal. Teori murni sebagai dasar-dasar yang melihat keseimbangan barang dagangan(Qo) dan harga atau (Po). Sedangkan teori moneter melihat mekanisme dari neraca pembayaran atau balance of payment, penentuan kurs defisa, mata uang yang berhubungan dengan kegiatan bisnis atau bussines cycle. Permasalahan ekonomi internasional muncul ke permukaan sebagai akibat terjadinya hubungan ekonomi antara suatu Negara dengan Negara lainnya sebagai suatu kesatuan ekonomi global. Kindler bedgler berpendapat, transaksi perdagangan antara Negara-negara terjadi baik secara bilateral maupun secara multilateral, selalu menimbulkan persoalaan yang serius dan mendesak untuk segera ditanggulangi. Misalnya gejolak harga minyak OPEC(Organization of Petroleum Exporting Country).
Permasalahan lain, dengan adanya perbedaan hokum dari suatu Negara ke Negara lainnya
            Hilir mudiknya kapal-kkapal pengangkut barang antar Negara menunjukkan keterkaitan antar manusia di seluruh dunia. Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan penduduk suatu Negara dengan penduduk Negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar perorangan atau individu-individu)
            Menurut Amir M.S., bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di dalam negeri, maka perdagangan internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan tersebut antara lain di sebabkan karna adanya batas-batas politik dan kenegaraan yang dapat menghambat perdaganagn misalnya dengan adanya bea, atrif, atau kuota barang impor. selain itu kesulitan lainnya timbul karena adanya perbedaan budaya, bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan , dan hokum dalam perdagangan.
            Manfaat perdagangan internasional, menurut sadorno sukirno , manfaat perdagangan internasional adalah sebagai berikut :
1.      Memperoleh barang yang tidak dapat di produksi di negeri sendiri. Banyak faaktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap Negara. Factor-faktor tersebuut diantaranya: kondisi geografi, iklim, tingkat penguasaan iptek dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan internasional, setiap Negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak di produksi sendiri
2.      Memperoleh keuntungan dari spesialisasi. Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu Negara dapat memperoleh suatu barang yang sama jenisnya dengan yang di produksi dengan Negara lain, tapi adakalanya lebih baik apabila Negara mengimppor barang tersebut dari luar negeri
3.      Memperluas pasar dan menambah keuntungan. Terkakdang, para pengusaha tidak menjalankan mesin-mesinnya atau alat produksinya dengan maksimal karena mereka khawatif akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional penguasaha dapat menjallankan mesin-mesinya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut ke luar negeri
4.      Tranport teknologi modern. Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu Negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih evisien dan cara-cara menejemen yang lebih modern.
                   I.            Masalah mobilitas faktor produksi
Factor produksi terdiri dari land(natural recouses), labour, capital, dan skill. Mobilitas mengandung arti suatu pergerakan dalam pengertian ekonomi atas pergerakan factor produksi dari suatu Negara ke Negara lain. Pada kenyataannya, tidak semua factor produksi secara internasional. Menurut Adam Smith, labour merupakan factor produksi yang paling mobil.
            Pada tahun 1914, terdapat perpindahan besar-besaran dari penduduk Benua Eropa ke Benua Amerika. Dalam PJPT-I 1966-1991 mobilitas capital dari luar negeri ke dalam negeri jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum PJPTI.
                II.            Masalah perbedaan sistem moneter
Setiap Negara mempunyai mata uang sendiri. Ahli ekonomi berpendapat maka uang boleh mempunyai nama tersendiri asalkan mata uang tersebut terbuat dari standar emas. Mata uang sekarang telah berubah bentuknya dari uang emas menjadi uang kertas. Adanya pebedaan mata uang dari setiap Negara, perbedaan kebijaksanaan ekonomi moneter, pada gilirannya mempengaruhi system lalu lintas pembayaran internasional dan system lalu lintas modal.
             III.            Masalah batasan negara yang berdaulat
Adanya batas-batas Negara dengan Negara lain yang berdaulat menyebabkan perbedaan politik dalam perdagangan, misalnya perlindungantarif terhadap produk hasil industry dalam Negara, larangan impor, quota dan blok-blok perdagangan. Adanya kedaulatan mengakibatkan bea masuk(import duty) dari suatu negara tidak sama dengan bea impor negara lain.   
             IV.            Masalah transport cost
Ongkos angkut dari pabrik ke pasar atau kepelabuhan meninggikan harga aspal pabrik. Agar harga produk ekspor sampai di Negara tujuan, dari pelabuhan asal ke Negara tujuan harus di perhitungkan dalam kalkulasi biayaproduksi, agar harga komoditi ekspor tepat sama dengan harga f.o.b.
Perlunya perdagangan antar negara
            Hilir mudik kapal-kapal pengangkut barang-barang antar Negara menunjukkan keterkaitan manusia di seluruh dunia. Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu Negara dengan Negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksudkan dapat berupa antaraperorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu Negara dengan Negara lain. Dibanyak Negara, perdagangan internasional menjadi salah satu factor utama untuk meningkatkan GDP. Meskipun perdagangan internasional telah terjadi selama beberapa tahun, dampaknya terhadap kepentingan ekonomi, social, dan politik baru dirasakan beberapa abad kebelakang. Perdagangan internasional pun turut mendorong industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinassional.
            Manfaat perdagangan internasional, menurut Sadono Sukirno, adalah sebagai berikut:
·         Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi dinegri sendiri. Banyak factor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi disetiap Negara. Factor-faktor tersebut diantaranya: kondisi geografi, iklim, tingkat penguasaan iptek dan lain-lain, dengan adanya perdagangan internasional setiap Negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.
·         Memperoleh keuntungan dari spesialisasi. Sebab utama kegiatan perdagangan luar negri adalah untuk memperoleh keuntungan yang diperoleh spesialisasi. Walaupun suatu Negara dapat memperoduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi Negara lain, tapi adakala lebih baik bila Negara tersebut
Berikut pendapat tentang alasan dan manfaat perdagangan internasional di dunia ekonomi :
·         Bugiskha wordpress

Alasan dan Manfaat dari Perdagangan Internasional

Suatu negara melakukan perdagangan internasional karena dua alasan utama yang maisng-masing menyumbangkan keuntungan perdagangan bagi mereka. Alasan pertama, negara-negara berdagang karena setiap negara berbeda satu sama lain. Bangsa-bangsa, sebagaimana individu dapat memperoleh keuntungan dari perbedaan-perbedan mereka melalui suatu pengaturan dimana setiap pihak melakukan sesuatu dengan relatif baik. Alasan kedua, negara-negara berdagang satu sama lain dengan tujuan mencapai skala ekonomis dalam produksi, maksudnya jika setiap negara menghasilkan sejumlah barang tertentu maka mereka dapat menghasilkan barang-barang tersebut dengan skala yang lebih besar dan karenanya lebih efisien dibandingkan jika negara tersebut mencoba untuk memproduksi segala jenis barang. Motif inilah dalam dunia nyata merupakan cerminan interaksi perdagangan internasional.
Pemikiran tentang perdagangan internasional awal mula berasal dari aliran yang disebut merkantilisme, yang menyatakan bahwa penekanan perdagangan internasional terletak pada kesempatan memperoleh surplus penerimaan dalam neraca transaksi berjalan. Oleh sebab itu kegiatan ekspor merupakan lokomotif utama melalui peningkatan industri dalam negeri, untuk memenuhi kebutuhan impor. Impor tersebut merupakan saingan yang dapat menurunkan  permintaan terhadap produk industri lokal yang dihasilkan di dalam negeri. Oleh karena itu merkantilisme melemparkan pemikiran bahwa kegiatan produksi dalam negeri dan ekspor harus ditingkatkan melalui ransangan subsidi dan fasilitas pemerintah. Sedangkan impor harus dibatasi melalui hambatan yang brsifat proteksi khususnya industri strategis.
Aliran klasik berpendapat bahwa, jika suatu negara dapat memproduksi  suatu barang atau jasa lebih murah, maka negara tersebut akan memproduksi barang atau jasa tersebut. Akan tetapi bila biaya prodksinya relatif lebih mahal dibandingkan ongkos produksi negara lainnya, maka barang atau jasa tersebut lebih baik dibeli atau diimpor, barang dan jasa dengan ongkos produksi yang lebih rendah tadi dapat dikonsumsi sendiri dan juga diekspor. Dengan demikian, terjadilah perdagangan antar negara. Aliran klasik lebih berorientasi pada keunggulan mutlak dan keunggulan komparatif. Teori keunggulan mutlak dari Adam Smith, dalam teori ini menyatakan bahwa hubungan perdagangan dari dua negara pada umumnya terjadi karena terdapat perbedaan biaya mutlak yang kemudian akan memberikan keuntungan mutlak kepada negara yang bersangkutan. Akan tetapi teori biaya mutlak dari Adam Smith tidak mungkin digunakan untuk menjelaskan bagaimana perdagangan dapat terjadi jika suatu negara tidak memiliki keunggulan mutlak dalam produksi beberapa macam barang. Hal ini menimbulkan munculnya kritik dari David Ricardo melalui teori keunggulan komparatif (Todaro, 2000; 575) tentang perdagangan internasional, mengutarakan manfaat potensial dari perdagangan. Teori ini menyatakan bahwa negara-negara akan mengekspor barang-barang yang tenaga kerjanya memproduksi dengan relatif lebih efisien dan mengimpor barang-barang yang tenaga kerjanya memproduksi dengan relatif kurang efisien yang menunjukkan perdagangan mengarah pada spesialisasi internasional. Dengan kata lain, pola produksi suatu negara ditentukan oleh keunggulan komparatif.
Sedangkan Jhon Stuart Mill memperhitungkan permintaan. Teorinya menjelaskan adanya permintaan terhadap suatu barang dan jasa, tanpa melihat ongkos, tetapi secara implisit masih diperhitungkan. Walaupun ongkos murah kalau tidak ada permintaan tentunya tidak ada pula perdagangan. Selanjutnya pemikiran dari ekonom swedia, Heckscher dan Ohlin yaitu tentang kelangkaan faktor produksi, yang menjelaskan bahwa bila suatu negara mempunyai faktor-faktor produksi yang berlimpah, maka negara tersebut akan mengekspor barang-barang dengan faktor yang berlimpah tersebut. Sebaliknya bila suatu negara mengalami kelangkaan faktor maka barang-barang yang dihasilkan faktor tersebut perlu diimpor.
Teori lain yang baru berkembang adalah teori keunggulan kompetitif (competitive Advantage) yang di kemukakan oleh E. Porter (1990)yang menurutnya tidak ada korelasi langsung antara dua faktor produksi (sumber daya alam yang tinggi dan sumber daya manusia yang murah) yang dimiliki suatu negara untuk dimanfaatkan untuk menjadi keunggulan daya saing dalam perdagangan. Porter mengungkapkan bahwa ada empat atribut utama yang menentukan mengapa industri tertentu dalam suatu negara dapat mencapai sukses internasional. Keempat atribut itu meliputi; kondisi faktor produksi, kondisi permintaan dan tuntutan mutu dalam negeri, eksistensi industri pendukung, serta kondisi persaingan strategi dan struktur perusahaan dalam negeri. Keunggulan kompetitif yang hanya didukung oleh satu atau dua atribut saja biasanya tidak akan bertahan sebab keempat atribut tersebut saling berinteraksi positif dalam negara yang sukses. Hal lain pula harus didukung oleh peran pemerintah yang merupakan variabel tambahan yang signifikan.
Manfaat perdagangan internasional
Menurut Sadono Sukirno, manfaat perdagangan internasional adalah sebagai berikut;
1. Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi dalam negeri.
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi  disetiap negara. Faktor-faktor tersebut diantaranya : kondisi geografi, iklim, tingkat penguasaan iptek dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan internasional, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.
2.Memperoleh keuntungan dari spesialisasi.
Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalh untuk memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.
3. Memperluas Pasar
Terkadang, para pengusaha tidak menjalankan mesin alat produksinya dengan maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut keluar negeri, sehingga dapat dicapai optimalisasi dalam penggunaan faktor produksi.
4. Transfer teknologi moderen.
Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi ysng lebih efisien dan cara-cara manajemen yang lebih moderen.
·         Sahat Sijabat
Alasan melakukan perdagangan internasional
Negara-negara melakukan perdagangan internasional karena dua alasan utama; Pertama, negara-negara berdagang karena mereka berbeda satu sama lain. Kedua, negara-negara berdagang satu sama lain dengan tujuan mencapai skala ekonomis (economies of scale) dalam produksi.
·                     Untuk memahami pola perdagangan tersebut, kita mulai dengan membayangkan bahwa kita menghadapi suatu perekonomian yang  hanya memiliki satu faktor produksi, yaitu tenaga kerja. Kita bayangkan pula bahwa perekonomian hanya menghasilkan dua barang, anggur (wine) dan keju (cheese). Jumlah kebutuhan tenaga kerja diukur dengan jumlah jam kerja yang diperlukan untuk memproduksi satu kg keju atau satu galon anggur. Sumber daya total yang dimiliki oleh perekonomian dilambangkan dengan L, yaitu penawaran tenaga kerja total.
·                     Mengingat setiap perekonomian menghadapi keterbatasan sumber daya, maka terdapat pembatas-pembatas terhadap apa yang bisa diproduksi, dan kita selalu harus memilih; untuk memproduksi satu barang lebih banyak kita harus mengurangi produksi barang lain. Pilihan-pilihan ini dicenninkan oleh suatu garis yang disebut batas kemungkinan produksi (production possibility frontier).
Perdagangan dalam dunia yang hanya terdiri dari satu faktur produksi
Anggaplah hanya ada dua negara. Kita namakan kedua negara ini masing-masing Domestik dan Asing. Setiap negara hanya memiliki satu faktor produksi (tenaga kerja) dan dapat memproduksi dua barang, anggur dan keju. Jumlah angkatan kerja di Domestik adalah L dan kebutuhan tenaga kerja untuk menproduksi anggur dan keju berturut-turut adalah aLW dan aLC. Dalam mengidentifikasi negara asing, kita memanipulasi  notasi dengan menambahkan tanda (*) di atas notasi yang digunakan untuk negara Domestik. Dengan demikian angkatan kerja di negara Asing menjadi L*; kebutuhan tenaga kerja untuk memproduksi susu dan keju masing-masing a*LW  dan a*LC Demikian pula untuk yang lainnya.
·         Kita mengasumsikan bahwa kebutuhan tenaga kerja di sektor keju terhadap anggur lebih rendah di Domestik dari pada di Asing. Atau, kita dapat mengatakan bahwa produktivitas relatif Domestik: di sektor keju lebih tinggi dibandingkan dengan di sektor anggur. Dalam kasus ini, kita akan mengatakan bahwa Domestik memiliki keunggulan komparatif dalam produksi keju.
Menentukan harga relatif setelah perdagangan
·         Harga barang-barang yang diperdagangkan secara internasional, seperti harga barang-barang lainnya, ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Namun, dalam membahas keunggulan komparatif, kita hurus menerapkan “analisis penawaran dan permintaan” dengan hati-hati. Yang diperlukan adalah analisis keseimbangan umum (general equilibrium analysis) yang memperhitungkan keterkaitan antara kedua pasar.
·         Salah satu cara yang bermanfaat untuk memadukan kedua pasar menjadi satu adalah dengan tidak hanya menitikberatkan pada jumlah keju dan anggur yang ditawarkan dan yang diminta, tetapi juga pada penawaran dan permintaan relatif, yaitu pada jumlah keju yang ditawarkan atau yang diminta dibagi dengan jumlah anggur yang ditawarkan atau yang diminta.
Keuntungan perdagangan (the gains from trade)
·         Perdagangan yang saling menguntungkan ini dapat ditunjukkan dengan dua cara.
·         Cara pertama untuk menunjukan bahwa spesialisasi dan perdagangan akan saling menguntungkan adalah dengan membayangkan perdagangan sebagai metode produksi tak langsung. Domestik dapat menghasilkan anggur secara langsung, tetapi perdagangan dengan  Asing memungkinkan negara tersebut untuk “menghasilkan” anggur dengan memproduksi keju dan kemudian mempertukarkan keju dengan anggur. Metode tak langsung dalam “menghasilkan” satu galon anggur merupakan cara yang lebihn efisien dibandingkan dengan produksi langsung.
·         Cara lain untuk melihat perdagangan yang saling menguntungkan adalah dengan meninjau bagaimana perdagangan mempunyai dampak kepada pilihan¬pilihan dalam mengkonsumsi di setiap negara. Tanpa perdagangan, pilihan¬pilihan konsumsi sama dengan kemungkinan-kemungkinan produksi. Namun, dengan terjadinya perdagangan, setiap perekonomian dapat mengkonsumsi berbagai kombinasi keju dan anggur yang berbeda dengan kombinasi produksinya.
Beberapa kerancuan tentang keunggulan komparatif
·         Tiga kerancuan berikut, sebagai contoh, membuktikan secara gamblang, dan model sederhana kita tentang keunggulan komparatif dapat digunakan untuk meninjau mengapa mereka melakukan kesalahan.
Produktivitas dan daya saing
·         Mitos l: Perdagangan bebas hanya menguntumgkan jika negara Anda cukup produktif dalam menghadapi persaingan internnsional.
·         Argumentasi ini, sangat kerap digunakan dalam kasus negara-negara berkembang, menyatakan bahwa negara-negara miskin harus menutup diri dari perekonomian internasional sampai mereka cukup kuat untuk bersaing.
Hujah tenaga kerja murah (sweatshop labor argument)
·         Mitos 2:Persaingan internasional adalah tidak adil dan merugikan negara¬negara tertentu jika didasarkan kepada upah rendah.
·         Argumentasi ini kadang¬kadang dikatakan sebagai argumentasi tenaga kerja murah (sweatshop labor argument), terutama digunakan oleh serikat buruh untuk menuntut perlin¬dungan terhadap persaingan luar negeri. Orang yang bertolak dari keyakinan ini mendesak agar industri-industri dalam negeri tidak boleh dipecundangi oleh industri-industri 1uar  negeri yang kurang efisien, tapi  membayar upah lebih rendah.
Pertukaran tak setara (unequal exchange)
·         Mitos 3: Perdagangan mengeksploitasi suatu negara dan membuatnya menjadi lebih buruk jika negara tersebut menggunakan lebih banyak tenaga kerja dalam memproduksi barang-barang yang diekspor dibandingkan dengan negara-negara lain yang memproduksi barang-barang untuk kemudian diekspor kenegaran pertama. Argumentasi ini, kadang-kadang disebut doktrin pertukaran tak setara (unequal exchange), bersumber dari gagasan Marxis yang memahami bahwa nilai (harga) tercipta semata-mata oleh pekerja, dan cenderung dijadikan dalih oleh dunia ketiga untuk menganjurkan redistribusi pendapatan dari negara-negara maju.
·         Meskipun gagaaan bahwa suatu negara dieksploitasi jika ekspornya menyerap lebih banyak pekerja dibandingkan dengan impor cukup masuk akal, namun pertukaran tak setara tak berarti bahwa negara dengan upah rendah menderita kerugian dalam melakukan perdagangan.
Keunggulan komparatif dengan banyak barang
·         Kembali kita membayangkan dunia yang hanya terdiri dari dua Negara, Domestik dan Asing. Sama dengan kasus sebelumnya, setiap negara diasumsikan mengkonsumsi dan dapat memproduksi banyak barang, katakanlah N jenis barang sekaligus. Kita nyatakan sajam setiap barang dengan nomor, dari 1 sampai N.
·         Teknologi di setiap negara dapat dijelaskan oleh jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk masing-masing barang, yaitu jumlah jam kerja yang dibutuhkan dalam memproduksi setiap satu unit barang. Jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk setiap barang di Domestik kita lambangkan dengan aLI’ dimana i adalah jumlah barang. Jika keju kita tempatkan sebagai barang nomor 7, maka aL7 berarti jumlah kebutuhan tenaga kerja dalam produksi keju. Sesuai dengan aturan yang biasa kita gunakan, kita melamgbangkan jumlah kebutuhan tenaga kerja di Asing dengan a*LI’.
·         Untuk menganalisis perdagangan, kita perlu menggunakan lebih dari satu muslihat. Untuk suatu barang kita dapat menghitung aLI/ a*LI’, nisbah jumlah kebutuhan tenaga kerja Domestik terhadap Asing. Muslihat ini adalah untuk menberikan lambang kepada barang-barang sedemikian rupa sehingga semakin kecil nomornya, semakin rendah pula rasionya. Dengan demikian
·         Tabel dibwah menyajikan contoh numerik, di mana Domestik dan Asing sama-sama mengkonsumsi dan dapat memproduksi lima barang: apel, pisang, telur ikan (kaviar), kurma, dan encilada.
·         Dua kolom pertama dari tabel ini sudah cukup jelas. Kolom ketiga adalah nisbah antara kebutuhan tenaga kerja di Asing dengan kebutuhan tenaga kerja di Donestik untuk setiap barang-atau, keunggulan produktivitas relatif Domestik untuk setiap barang. Kita telah melambangkan barang-barang tersebut dan mengurutkannya berdasarkan keunggulan produktivitas Domestik, dengan keunggu1an terbesar pada apel dan terkecil pada encilada.
·         Qeyty blogspot
1. Spesialisasi antar bangsa – bangsa
Dalam hubungan dengan keunggulan atau kekuatan tertentu beserta kelemahannya itu maka suatu Negara haruslah menentukan pilihan strategis untuk memproduksikan suatu komoditi yang strategis yaitu :
a. Memanfaatkan semaksimal mungkin kekuatan yang ternyata benar-benar paling unggul sehingga dapat menghasilkannya secara lebih efisien dan paling murah diantara Negara-negara yang lain.
b. Menitik beratkan pada komoditi yang memiliki kelemahan paling kecil diantara Negara-negara yang lain
c. Mengkonsentrasikan perhatiannya untuk memproduksikan atau menguasai komoditi yang memiliki kelemahan yang tertinggi bagi negerinya
·         Keunggulan absolute (absolute advantage)
·         Suatu negara dapat dikatakan memiliki keunggulan absolut apabila negara itu memegang monopoli dalam berproduksi dan perdagangan terhadap produk tersebut. Hal ini akan dapat dicapai kalau tidak ada negara lain yang dapat menghasilkan produk tersebut sehingga negara itu menjadi satu-satunya negara penghasil yang pada umumnya disebabkan karena kondisi alam yang dimilikinya, misalnya hasil tambang, perkebunan, kehutanan, pertanian dan sebagainya. Disamping kondisi alam, keunggulan absolut dapat pula diperoleh dari suatu negara yang mampu untuk memproduksikan suatu komoditi yang paling murah di antara negara-negara lainnya. Keunggulan semacam ini pada umumnya tidak akan dapat berlangsung lama karena kemajuan teknologi akan dengan cepat mengatasi cara produksi yang lebih efisien dan ongkos yang lebih murah.
·         Konsep Keunggulan komparatif ini merupakan konsep yang lebih realistik dan banyak terdapat dalam bisnis Internasional. Yaitu suatu keadaan di mana suatu negara memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk menawarkan produk tersebut dibandingkan dengan negara lain. Kemampuan yang lebih tinggi dalam menawarkan suatu produk itu dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk yaitu :
a. Ongkos atau harga penawaran yang lebih rendah.
b. Mutu yang lebih unggul meskipun harganya lebih mahal.
c. Kontinuitas penyediaan (Supply) yang lebih baik.
d. Stabilitas hubungan bisnis maupun politik yang baik.
e. Tersedianya fasilitas penunjang yang lebih baik misalnya fasilitas latihan maupun transportasi.Suatu negara pada umumnya akan mengkonsentrasikan untuk berproduksi dan mengekspor komoditi yang mana dia memiliki keunggulan komparatif yang paling baik dan kemudian mengimpor komoditi yang mana mereka memiliki keunggulan komparatif yang terjelek atau kelemahan yang terbesar. Konsep tersebut akan dapat kita lihat dengan jelas dan nyata apabila kita mencoba untuk menelaah neraca perdagangan negara kita (Indonesia) misalnya. Dari neraca perdagangan itu kita dapat melihat komoditi apa yang kita ekspor adalah komoditi yang memiliki keunggulan komparatif bagi Indonesia dan yang kita impor adalah yang keunggulan komparatif kita paling lemah.
2. Pertimbangan pengembangan bisnis
Perusahaan yang sudah bergerak di bidang tertentu dalam suatu bisnis di dalam negeri seringkali lalu mencoba untuk mengembangkan pasarnya ke luar negeri. Hal ini akan menimbulkan beberapa pertimbangang yang mendorong mengapa suatu perusahaan melaksanakan atau terjun ke bisnis internasiional tersebut :
a. Memanfaatkan kapasitas mesin yang masih menganggur yang dimiliki oleh suatu perusahaan
b. Produk tersebut di dalam negeri sudah mengalami tingkat kejenihan dan bahkan mungkin sudah mengalami tahapan penurunan (decline phase) sedangkan di luar negeri justru sedang berkembang (growth)
c. Persaingan yang terjadi di dalam negeri kadang justru lebih tajam katimbang persaingan terhadap produk tersebut di luar negeri
d. Mengembangkan pasar baru (ke luar negeri) merupakan tindakan yang lebih mudah ketimbang mengembangkan produk baru (di dalam negeri)e. Potensi pasar internasional pada umumnya jauh lebih luas ketimbang pasar domestic
B.     Perdagangan Internasional dalam Pertumbuhan Ekonomi Negara
C.     Kebijakan Perdagangan dan Pengaruhnya
Kebijakan ekonomi internasional diartikan sebagai berbagai tindakan dan peraturan yang dijalankan suatu Negara, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang akan mempengaruhi struktur, komposisi, dan rah perdagangan internasional dari/ke Negara tersebut. Dalam implementasinya, perdagangan antar dua Negara sering merugikan Negara yang lemah. Negara maju mendominasikan perdagangan internasional. Tingkat harga lebih banayak ditentukan oleh Negara maju, hal ini disebabkan ketergantungan Negara berkembang yang relative bergantung lebih besar kepada Negara maju dari pada sebaliknya.
Instrumen kebijakan ekonomi internasional
Instrument kebijakan perdagangan international di bidang ekspor diartikan sebagai tindakan dan peraturan yang dikeluarkan pemerintah, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang akan mempengaruhi struktur, komposisi, dan arah transaksi serta kelancran usaha untuk peningkatan devisa ekspor suatu Negara. Kebijakan perdagangan internasional dikelompokan dalam dua macam berikut :
A.    Kebijakan ekspor di dalam negeri
·         Kebijakan perpajakan dalam bentuk pembebasan keringan, pengembalian pajak ataupun pengenaan pajak ekspor/PET untuk barang-barang ekspor tertentu.
·         Fasilitas kredit perbankan murah untuk mendorong peningkatan ekspor barang-barang tertentu.
·         Penetapan prosedur/tat laksana ekspor yang relative mudah.
·         Pemberian subsidi ekspor
·         Pembentukan asosiasi eksportir.
·         Pembentukan kelembagaan
·         Larangan/pembatasan ekspor.
B.     Kebijakan ekspor di luar negeri
·         Pembentukan international trade promotion centre (ITPC) di berbagai Negara.
·         Pemanfaatan general system of preferency atau GSP, yaitu fasilitas peringanan bea masuk yang diberikan oleh Negara industry untuk marang manufaktury yang berasal dari Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia seperti salah satu hasil dari UNCTAD.
Instrumen kebijakan perdagangan internasional di bidang impor diartikan sebagai tindakan dan pertaruran yang dikeluarkan pemerintah, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang akan mempengaruhi struktur, komposisi, dan kelancaran usaha untuk mendorong/melindungi pertumbuhan industry dalam negeri dalam penghematan devisa.
Tujuan Kebijakan Ekonomi Internasional
Tujuan kebijakan internasional yang dijalankan oleh suatu Negara dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Melindungi kepentingan ekonomi nasional dari pengaruh buruk atau negative dan dari situasi ekonomi internasional yang tidak baik atau tidak menguntungkan.
2.      Melindungi kepentingan industry didalam negeri.
3.      Melindungi lapangan kerja.
4.      Menjaga keseimbangan dan stabilitas neraca pembayaran internasional.
5.      Menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan stabil.
6.      Menjaga stabilitas nilai tukar/kurs valas.
Hambatan-Hambatan dalam Perdaganan Internasional
Hambatan perdagangan adalah regulasi atau peraturan pemerintah yang membatasi perdagangan bebas. Bentuk-bentuk hambatan antara lain :
·         Tariff atau bea cukai. Tariff adalah pajak produksi impor.
·         Kuota. Kuota membatasi banyak unit yang dapat diimpor untuk membatasi jumlah barang tersebut di dalam pasar dan menaikkan harga.
·         Subsidi. Subsidi adalah bantuan pemerintah untuk produsen local. Subsidi dihasilkan dari pajak. Bentuk-betuk subsidi antara lain bantuan keuangan, pinjaman dengan bunga rendah dll.
·         Muatan local.
·         Peraturan administrasi.
·         Peraturan antidumping.
            Hambatan perdagangan mengurangi efisiensi ekonomi karena masyarakat tidak dapat mengambil keuntungan dari produktivitas Negara lain. Pihak yang mengambil keuntungan dari adanya hambatan perdagangan adalah produsen dan pemerintah. Produsen mendapatkan proteksi dari hambatan perdagangan, sementara pemerintah penghasilan dari bea-bea.
Argument untuk hambatan perdaganagan antara lain perlindungan terhadap industry dan tenaga kerja local. Dengan tidak adanya hambatan perdagangan, harga produk dan jasa dari luar negeri akan menurun dan permintaan untuk produk jasa local akan berkurang. Hal akan menyebabkan matinya industry local perlahan-lahan. Alasan lain adalah untuk melindungi konsumen dari produk-produk yang telah diubah secra genetics. Di Indonesia,hambatan perdagangan untuk membatasi impor pertanian dari luar negeri untuk melindungi petani dari anjloknya harga local.
Para penentang globalisasi acap kali mengacu pada persoalaan moral tatkala mereka menyerang pasar bebas. Jullian morris justru menunjukkan bahwa tak ada sesuatu yang sangat salah daripada: suatu perbatasan terhadap perdagangan adalah sesuatu yang sangat tidak moral, karena tindakan ini akan merusak keberlangsungan pembangunan akibat meningkatnya biaya barang-barang, mentengsarakan kaum miskin, dan menjadi penghalang terhadap lapangan pekerjaan dan kewirausahaan. Pada sisi lain, pertukaran sukarelawan yang terjadi diantara masing-masing individu adalah sesuatu pada dasarnya semakin memperkokoh tingkat kemakmuran yang dimiliki setiap pelaku. Secara komultif, perdagangan yang terjadi dengan cara itu akan endorong proses kewirausahaan yang akan semakin baik dan tersedianya barang-barang murah, serta mendorong produktivitas. Kombinasi dari semuanya akan berujung pada pembangunan yang berkelanjutan, dan perbaikan yang terus menerus terhadap kesejahteraan masyarkat.
Julian Morris menghitung bahwa denagn melakukan penghapusan terhadap berbagai tariff dan kuota, yang diperlakukan dalam perdagangan barang dan jasa, akan mendorong pertumbuhan GDP dunia hingga lebih dari satu trilliun Dollar US setiap tahun dan para kaum miskin di Afrika dan di Asialah yang mendapat keuntungan dari kebijakan seperti itu, jika dilakukan.
Kebijakan dalam Perdagangan Internasional
Setiap negara akan melindungi perekonomian di dalam negerinya dan pengaruh pelaksanaan perdagangan internasional. OIeh karena itu, ada beberapa kebijakan yang akan diarnbil oleh setiap negara. Kebijakan ini berkaitan dengan proteksi (perlindungan) industri dalam negeri karena pengaruh perdagangan internasional tersebut. Kebijakan-kebijakan tersebut, antara lain tarif, kuota, larangan ekspor, larangan impor, subsidi, premi, diskriminasi harga, dan dumping.
1.    Tarif
Tarif adalah pembebanan pajak atau custom duties terhadap barang yang melewati baras suatu negara. Tarif dapat dikenakan terhadap barang impor ataupun ekspor. Akan tetapi, dalam analisis ekonomi, tarif impor lebih penting dan pada tarifekspor.
Ada beberapa macam penggolongan tarif, antara lain sebagai berikut :
a.      Bea ekspor (export duties) adalah pajak atau bea yang dikenakan terhadap barang yang diangkut menuju ke negara lain.
b.      Bea transito (transit duties) adalah pajak atau bea yang dikenakan terhadap barang yang hanya melewati negara tersebut karena tujuan akhirnya negara lain (sebagai transit).
c.      Bea impor (impor duties) adalah pajak atau bea yang dikenakan terhadap barang yang masuk dalam daerah pabean suatu negara dengan ketentuan bahwa negara tersebut sebagai tujuan akhir.
Pembebanan tarifatas suatu barang dapat menimbulkan pengaruh terhadap perekonomian suatu negara, khususnya terhadap pasar barang yang dikenai tarif tersebut. Pengenaan tarif terhadap barang-barang impor biasanya ditujukan Untuk melindungi produksi barang sejenis yang dihasilkan di dalam negeri.
2.    Kuota
Kuota adalah pembatasan jumlah barang yang boleh masuk (kuota impor) dan jumlah barang yang boleh keluar (kuota ekspor). Kuota yang diterapkan oleh pemerintah biasanya dilakukan dengan cara memperkenankan impor ataupun ekspor suatu barang dengan jumlah yang dibatasi.
a.   Kuota Impor
Beberapa jenis kuota impor, antara lain sebagai berikut :
1)     Absolute atau unilateral quota adalah kuota yang besar kecilnya ditentukan sendiri oleh suatu negara tanpa persetujuan dan negara lain.
2)     Negotiated atau bilateral quota adalah kuota yang besar kecilnya ditenrnkan berdasarkan Perjanjian antara dua negara atau lebih yang terlibat dalam perdagangan.
3)     Tarif quota adalah gabungan antara tarif dan kuota. Untuk barang-barang tertentu jumlahnya dibedakan dan diizinkan masuk atau keluar tetapi dikenakan tarif yang tinggi.
4)     Mixing quota adalah pembatasan penggunaan bahan mentah yang diimpor dengan proporsi tertentu dalam rangka melaksanakan produksi barang akhir. Pembatasan mi bertujuan mendorong perkembangan industri di dalam negeri.
Adanya kuota impor berarti barang-barang impor di pasaran tersedia terbatas. Hal tersebut berarti barang-barang sejenis yang dihasilkan di dalarn negeri dapat bersaing.
b.   Kuota Ekspor
Kuota ekspor yang diterapkan oleh setiap negara memiliki beberapa tujuan , antara lain :
1)     mencegah barang-barang yang penting agar tidak jatuh ke negara yang dianggap berbahaya;
2)     menjamin ketersediaan barang di dalam negeri dalam jumlah yang cukup;
3)     mengadakan pengawasan produksi serta pengendalian harga dalam menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.
Kuota ekspor biasanya dikenakan terhadap bahan mentah yang merupakan komoditas perdagangan penting.
3.    Larangan Ekspor
Larangan ekspor adalah kebijakan pemerintah dalam perdagangan internasional yang tidak memperbolehkan ekspor barang dan dalam ke luar wilayah pabean suatu negara. Misalnya, ekspor pasir laut Indonesia ke Singapura dilarang karena menimbulkan kerusakan Iingkungan yang merugikan negara.
4.    Larangan Impor
Larangan impor merupakan kebalikan dan larangan ekspor, yaitu suatu kebijakan dalam perdagangan dengan cara melarang membeli barang dan luar negeri untuk melindungi dan mengembangkan industri dalam negeri. Misalnya, larangan mengimpor beras, bawang putih, dan gula pasir. Jika barang-barang (komoditas) tersebut tidak dilindungi, petani padi, bawang, dan tebu akan mendenita kerugian yang besar.Apabila digambarkan dalam bentuk kurva, pengaruh larangan impon terhadap harga barang akan tampak seperti berikut : 2
Keterangan :
OQ                  besarnya produksi dalam negeri sebelum ada larangan impor
Q1Q3               besarnya impor barang sebelum ada larangan
OQ3                 besarnya konsumsi barang sebelum ada larangan impor
OP                   tingkat harga barang sebelum ada larangan impor
OQ2                 besarnya produksi dalam negeri setelah ada larangan impor
OQ2                 besarnya barang setelah ada larangan impor karena tidak ada barang impor di pasar (impor = 0)
OP1                 tingkat harga barang setelah ada larangan impor
Dengan adanya larangan impor, produsen dalam negeri dapat menjual barang lebih banyak dan dengan harga yang Iebih tinggi.
5.    Subsidi
Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan yang memproduksi, menjual, mengekspor, atau pun mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Dengan subsidi, harga jual suatu barang dapat terjangkau oleh masyarakat. Maksud diberikannya subsidi adalah agar para produsen dalam negeri menjual barangnya dengan harga yang lebih murah sehingga bisa bersaing dengan barang-barang impor. Subsidi ini dapat berupa
a.     uang yang diberikan secara Iangsung (nominal rupiah);
b.     subsidi per unit produksi.
6.    Premi
Premi dalam kebijakan perdagangan internasional berupa kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh pemerintah kepada perusahaan daiam meningkatkan ekspornya. Misalnya, penghargaan untuk kualitas barang yang memenuhi standar kualitas ekspor, penyederhanaan prosedur ekspor, biaya ekspor yang murah, dan penyediaan fasilitas pelabuhan ekspor yang memadai.
7.    Diskriminasi Harga dan Dumping
Salah satu kebijakan dalam perdagangan inrernasional yang cukup banyak mendapar sorotan adalah dumping. Kebijakan ini merupakan salah satu benruk diskriminasi harga. Suaru negara dikatakan melakukan damping jika mengekspor hasil produksinya ke suatu negara dengan harga yang lebih rendah daripada harga di dalam negeri.
Misalnya, Jepang menjual mobil-mobilnya ke Indonesia dengan harga yang murah, padahal harga mobil dengan merek dan tipe yang sama di Jepang sendiri harganya mahal. Kebijakan menaikkan harga di dalam negeri ini biasanya dirujukan unruk menutupi kerugian yang mungkin terjadi di luar negeri.
Dalam menjalankan kebijakan ini, harus memenuhi persyararan-persyararan rerrenru, anrara lain sebagai berikut :
a.     Kekuatan monopoli di dalam negeri lebih besar daripada di luar negeri atau dengan kata lain bahwa kurva permintaan di dalam negeri relatif kurang elastis dibandingkan dengan luar negeri yang keadaan pasarnya persaingan sempurna.
b.     Konsumen di dalam negeri tidak dapat membeli barangnya dan luar negeri.
F.    Devisa
Devisa merupakan total valuta asing yang dimiliki oleh pemerintah dan swasta. Dengan memerhatikan pengertian devisa, yaitu kekayaan terhadap negara lain maka devisa mempunyai beberapa fuüngsi, antara lain sebagai berikut :
1.      sebagai alat pembayaran luar negeri;
2.      sebagai jaminan utang;
3.      sebagai jaminan impor;
4.      alat ukur kemampuan negara dalam melakukan transaksi internasional.
Sumber-sumber devisa berasal dan penerimaan Jun negeri, antara lain sebagai berikut :
1.      penerimaan hasil minyak dan gas bumi;
2.      pinjaman luar negeri;
3.      jasa pengangkutan ke luar negeri;
4.      penerimaan bunga obligasi asing;
5.      pengirirnan tenaga kerja Indonesia (TIC) ke luar negeri;
6.      penjualan kayu hutan ke luar negeri.
Besarnya cadangan devisa suatu negara dapat diketahui melalui neraca pembayaran internasional (balance of payment). Makin besar cadangan devisa yang dimiliki oleh pemerintah dan penduduk suatu negara, makin besar Icemampuan negara tersebut dalam melakukan transaksi ekonomi dan keuangan internasional dan makin kuat pula nilai mata uang negara tersebut. Cadangan devisa dapat dikelompokkan menjadi dua sebagai berikut :
1.      Cadangan devisa resmi atau official foreign exchange reserve, yaitu cadangan devisa milik negara yang dikelola, dikuasai, diurus, dan ditatausahakan oleh Bank Indonesia.
2.      Cadangan devisa nasional atau country foreign exchange reserve, yaitu seluruh devisa yang dimiliki oleh perorangan, badan, atau lembaga terutama perbankan yang secara moneter merupakan kekayaan nasional (termasuk miik bank umum nasional).
Beberapa kebijakan pengaruran sistem devisa yang pernah dilaksanakan di Indonesia, antara lain sebagai berikut :
1.    Sistem Devisa Kontrol
Sistem in diterapkan di Indonesia berdasarkan UU No. 32 Tahun 1964. Pada wakru direrapkan undang-undang ini, devisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu devisa hasil ekspor (DHE) dan devisa umum (DU). Sesuai dengan undang-undang yang berlaku pada saat ini, setiap perolehan devisa wajib diserahkan kepada negara.
2.    Sistem Devisa Semikontrol
Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan Perpu No. 64 Tahun 1970. Perolehan DHE wajib diserahkan kepada Bank Indonesia dan penggunaannya juga harus mendapat izin dari Bank Indonesia, sementara untuk DU dapat secara bebas diperoleh dan dipergunakan. Administrasi perolehan dan penggunaan DHE dilanjutkan oleh Bank Indonesia, sementara Lalu lintas devisa untuk jenis DU mulai tidak dapat diadministrasikan dan dipantau secara baik.
3.    Sistem Devisa Bebas
Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No. 1 Tahun 1982. Dengan peraturan ini, setiap penduduk dapat bebas memiliki dan menggunakan devisa. Hal itu berlaku untuk semua jenis devisa, baik bentuk DHE maupun DU. Tidak ada pengaturan mengenai kewajiban bagi penduduk untuk melaporkan devisa yang diperoleh dan tujuan penggunaannya. Kebebasan sistem devisa ini kemudian diartikan sistem devisa tidak wajib lapor.
.    Penegasan Sistem Devisa Bebas
Undang-Undang No.24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar yang diberlakukan pada tanggal 17 Mel 1999. Dalam undang-undang ini ditegaskan bahwa setiap penduduk dapat dengan bebas memiliki dan menggunakan devisa. Undang-undang tersebut juga menegaskan kewajiban bagi setiap penduduk untuk memberikan keterangan dan data mengenai kegiatan lalu lintas devisa yang dilakukannya, baik secara Iangsung maupun melalui pihak lain yang diterapkan oleh Bank Indonesia. Diatur pula kewenangan Bank IndonesIa unruk menetapkan ketentuan atas berbagai jenis nansaksi devisa yang dilakukan oleh bank dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian dalam pelaksanaan kebijakan devisa di Indonesia.Jika dibuatkan bagannya, penerapan sistem devisa yang pernah berlaku di Indonesia, seperti disamping.

Kebijakan perdagangan internasional proteksionisme & tarif

Proteksionisme
Proteksionisme adalah kebijakan ekonomi yang membatasi perdagangan antarnegara melalui cara tata niaga, pemberlakuan tarif bea masuk impor (tariff protection), jalan pembatasan kuota (non-tariff protection), sistem kenaikan tarif dan aturan berbagai upaya menekan impor bahkan larangan impor. Pendeknya, apa pun ancaman terhadap produk lokal harus diminimalkan. Namun, proteksionisme ini bertentangan dengan prinsip pasar bebas.
Bentuk Proteksi
Proteksi secara umum ditujukan sebagai tindakan untuk melindungi produksi dalam negeri terhadap persaingan barang impor di pasaran dalam negeri. Secara luas, perlindungan ini juga mencakup untuk promosi ekspor. Sedangkan metode proteksi yang dilakukan menyangkut sistem pungutan tarif (pajak) terhadap barang impor yang masuk ke dalam negeri. Tarif merupakan pajak yang dikenakan atas barang impor. Pajak atas barang impor itu biasanya tertulis dalam bentuk pernyataan surat keputusan (SK) atau undang-undang. Oleh karena itu, setiap importir dapat mempelajarinya sebelum mengimpor suatu barang.
Umumnya, tarif atau bea masuk dikenakan secara khusus berdasarkan presentase dari nilai barang impor.
D.    Siklus Perdagangan Internasional
Perdagangan antar kota atau antar pulau dalam suatu Negara dapat dibandingkan dengan perdagangan antar Negara atau dengan mempelajari analisis koomperatif antara ekonomi regional dengan ekonomi internasional. Kegiatan ekonomi internasional lebih banyak menurut komponen-komponen biaya dengan konskuensi yang akan memberikan manfaat yang lebih besar. Biaya untuk melakuakan perdagangan internasional pertama, terdiri dari biaya investasi pendirian pabrik, biaya operasional dan pemeliharaan, biaya variable pembelian bahan baku, pembayaran upah buruh sampai menjadi harga barang dari pintu pabrik. Kedua, bahan baku asal impor dapat diperoleh denagn transportasi dan biaya pengapalan sampai dinegara tujuan importir menjadi harga Cost Insurance and Freight(C.i.f). ketiga, barang hasil produksi dalam negeri untuk diekspor untuk menambahharga pabrik dengan biaya-biaya handling, transportasi ke pelabuhan, biaya packing dan pengapalan menjadi harga ekspor yang disebut free on board.
Setelah selesai mengerjakan beberapa latihan tentang manfaat dan biaya-biaya dari suatu kegiatan dengan perdagangan internasional dan tanpa peragangan internasional, kehidupan dari perdagangan internasional dapat dipelajari melalui suatu siklus yang terdiri dari:
·         Siklus 1  : dimana peranan dari perdagangan bebas(free trade) sangat dominan
·         Siklus 2 : di lain waktu terjadi system perlindungan tariff terhadap produk hasil              industry dalam negeri.
1.      Free Trade
Adam Smith dan David Ricardo membawa konsep perdagangan bebeas(free Trade) untuk menciptakan spesialis perdagangan antar Negara melalui pembagian kerja untuk menghasilkan produk yang melibihi kebutuhan dalam negeri dan menukarkan kelebihannya dengan produk lain yang tidak dihasilkan atau kurang produktif. Pertukaran dua barang X dengan barang Y yang terjadi antara dua Negara A dan Negara B dalam siklus free trade dapat dilakukan tanpa hambatan-hambatan tariff atau campur tangan pemerintah.
2.      Tarif Protection
Salah satu hasil penelitian Earn Engel dapat mengungkapkan terjadinya perubahan perdagngan berdasarkan fast track of rapid Growth Development, dimana suatu Negara mendahulukan berdirinya perusahaan-perusahaan industry yang mendukung sector pertanian. Kegiatan perdangan internasional menurut Robbock dan Simoond kegiatan inio dilakukan oleh perusahaan multinasional antara terjdinya transfer and good and service( pertukaran barang dan jasa) sebagai akibat adany kemajuan dan perkembangan teknologi di bidang angkutan laut dan kereta api. Teknologi angkutan laut dan darat telah memungkinkan untuk dilakukannya pengangkutan barang-brang hsil produk pertanian yang telah diolah menjadi produk hasil manufacturing secara besar-besaran dari Negara-negara berkembang ke Amerika dan Eropa. Bongkar muat barang dagangan dan pengangkutan barang impor-ekspor, dilakukan dalam waktu yang semakin sempit.
Harga barang impor yang lebih rendah dari harga barang sejenis hasil produk Negara-negara Eropa, merupakan pukulan dan persainagn yang sangat berat hasil produk Eropa. Untuk melindungi industry dalam negeri eropa, Negara-negara MEE( masyarakat Ekonomi Eropa) berlakuakn perlindungan tariff.
Dari uraian diatas, terlihat bahwa siklus perdangan telah beralih dari sitem free trade menjai system tariff proteksi.  
3.      Blok-blok Perdagangan
System kode berdasarkan pengelompokan komoditif perdagangan yang dikenal dengan nama CCCN, ternyata menunjukkan kelemahannya dimana dalam periode 1990-1994 sistem nomor baru yang dikenal dengan nama Harmonized System tidak hanya dapat mengatasi maslah perdagangan internasional dengn system tariff. Antara lain:
a.       Nomor pos tariff telah beberapa kali berubah dari 6 digit BTN tahun 1980 menjadi 7 digit CCCN tahun 1985 dan menjadi 9 digit HS tahun 1990
b.      Dalam periode 1990-1994, Negara industry seperti Amerika dan Negara-negara eripa merasa tidak cukup dilindungi dengan system HS
c.       Tahun 1993-1994, anggota-anggota GATT di Geneva tidak dapat mencapai kesepakan tingkat tariff.
4.      Bentuk-bentuk Proteksi di Indonesia
Alat-alat perlindungan tarif terdiri dari:
a.       Tariff barier
Yaitu tindakan pembebanan bea impor atas pos tariff hasil industry yang akan diimpor dan dimssukkan kedaerah pabean Indonesia.  Bila bea masuk tidak cukup maka aka nada penambahan bea masuk.
b.      Quota( pembatasan Impor)
Dengan kuota benar-benar efektif untuk melindungi produk hasil dalam negeri, misalnya gula pasir hail produksi Pabrik Gula Mini. Bila produksi gula 1500 juta ton tidak mencukupi kebutuhan gula sekitar 1800 on, maka untuk memenuhi kebutuhan yang kurang itu gula sekitar 300 ton, diberikan kuota sebanyak 300 ton. Dengan demikian konsumen gula local tidak akan beralih kegul impor.
c.       Non tariff Barier(NTB)
Perizinan impor komoditif yang dibutuhkan didalam negeri dilakukan dengan system penunjukan terhadap bebrapa perusahaan sebagai pelaksana impor.
d.      Duty draw Back and Duty Exemption
Pemberian subsidi ekspor yang dikenal sebagai sertifikat ekspor telah berhasil mendorong ekspor non migas, tetapi menghadapi tindkan balaan dari negra tujuan ekspor.
Pada tahun 1985, pemerintah mengeluarkan paket Deregulasi 6 Mei 1985, tentang pelayanan kemudahan untuk mendorong ekspor non migas melalui pembebas bea masuk atau pengambalian bea masuk.
5.      Bentuk-bentuk proteksi di luar negeri
Amerika dan Eropa merupakan negar tujuan ekspor untuk hasil produksi dari Indonesia dan Negara berkembangan lainnya. Perkembangan eknologi di bidang jasa angkutankereta apidan angkutan laut, lancarnya transfer dibidang perbankkan. Telah mendorong perpindahan barang dari Indonesia dan membanjiri pasar diluar negeri.
1)      Tariff tinggi
Setelah krisis minyak tahun 1973-1974, disusun dengan resensi yang berkepanjangan, negar-negara industry maju dibenua amerika, Jepang, dan negra-negara Eropa yang merasa terdesak oleh barang impor, telah lama beralih dari system free trade ke system tariff protection untuk melindungi hasil industry sejenis barang impor seperti tekstil dan pakaian.
Tindakan proteksionisme dari Negara-negara industry bertujuan untuk menghalang-halangi masuknya barang Indonesia, Malaysia, Filipina, india, dan brazilia.
2)      Quota
Tekstil dan germent hasil industry dalam negeri Indonesia dianggap meruakan sainagn bagi hasil industry dalam negeri Amerika. Maka atas tekstil dan garment asal Indonesia, Amerika telah mengenakan quota.
3)      Restriktif (larangan Impor)
Jerman Barat menerapkan tindakan restriktif atau laranagn impor untuk menghalangi masuknya barang impor dari berbagai Negara Asia.
Amerika dan eropa melakukan restriktif impor melalui system dan prosedur pabean (bea cukai), misalnya hasil produk impor harus memenuhi persyaratan kesehatan, misalnya minuman tidak menagandung zat warna tekstil sebagai penyebab penyakit kanker.
Prancis mempersulit administrasi pabean untuk menghalani masuknya barang impor.
4)      Counter vailing duty
Tindakan-tindakan proteksi baik antara sesame Negara maju maupun Negara berkembang mencapai titik kritis pada tahun 1985 dan mengarah kepada tindakan balasan. Tindakan balasan di Amerika Serikat dikenal dengan istilah “ country vailing duty” dari senator jenkin Bill yang telah gagal akibat veto dari presden Ronald Reagen. Namun tindakan balasan untuk membatasi impor tekstil ke Amerika telah menggoncangkan Negara-negara pengekpor tekstil seperti Indonesia.
6.      Blok-blok perdagangan
Untukl mengatasi masalah-masalah pemasaran barang-barang hasil industry dalam negeri, Negara-negara sosialis sudah sejak lama melakukan praktek blok-blok perdagangan.
a)      Counter Pruchases
Negara sosialis melakukan praktek blok-blok perdagangan melalui barter gaya baru yang disebut imbal-beli
b)      Blok perdagangan MEE
Lahirnya economic European Community(EEC) adalah untuk melakukan perdagangan regional atau kerja sama perdagangan diantara Negara-negara anggota MEE.
c)      Blok perdagangan Amerika
NAFTA terdiri dari Negara-negra Amerika, Kanada dan Amerika latin. Pada hakikatnya, tjuan NAFTA adalah untuk engatakan masalah perdagangan hasil industry  dalam negeri anggota blok perdagangan.  

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.