Makalah Pengembangan Diri Dalam Ajaran Agama dan Etika

Pengembangan Diri Dalam
Ajaran Agama
&
Etika

 

Disusun Oleh :
Kelompok 2
Susanti
NIM : 34130011
Sylvie Angelia
NIM : 34130012
Lia Septiani
NIM : 34130025
Lolyta Ezparanza
NIM :34130035


 
DAFTAR PUSTAKA

 

Dr. Zakiyah Darajat, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, Penerbit Gunung Agung, Jakarta, Cet. VII, 1983.
Drs. H. Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama: Kepribadian Muslim Pancasila, Penerbit Sinar Baru, Bandung, Cet. II, 1991.
Makalah-makalah Ibu Dra. Susilaningsih MA (dosen Mata Kuliah Psikologi Agama di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Syamsu Yusuf. (2002). Psikologi Belajar Agama. Bandung: Maestro.
Singgih Gunarsa. (2004). Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga. Jakarta: Gunung Mulia
Singgih Gunarsa. (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.Jakarta: Gunung Mulia.
 
 
KATA PENGANTAR
 
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
   Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
 
                                                                                      Jakarta, September 2015
 
                                                                                              Penyusun
DAFTAR ISI
 
Kata Pengantar……………………………………………………………………………………..i
Daftar Isi……………………………………………………………………………………………ii
BAB I : PEMBAHASAN…………………………………….…………………………………….1
     1.1  Pengertian Pengembangan diri…………………………………………………………………1
     1.2 Tujuan Pengembangan Diri………….…………………………………………………………………..1
     1.3 Aspek dalam mengembangkan diri………………………………………………………………………..2
1.4 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi…………………………………………………………………………2
1.5 Upaya-upaya Sekolah Dalam Rangka Mengembangkannya………………………………………….5
1.6 Kemampuan Diri ……………………………………………………………………………6
1.7 Hambatan dalam pengembangan potensi diri………………………………………………………………….8
1.8 Fungsi Keluarga Dalam Pengembangan Diri………………………………………………………………..12
1.9 Hubungan manusia dan agama……………………………………………………………………………………14
1.10 Etika dan Agama……………………………………………………………………………………………………..15
1.11 Istilah berkaitan………………………………………………………………………………………………………15
1.12 Hubungan Etika dan Agama…………………………………………………………………………………….16
1.13 Macam-macam ajaran agama di Indonesia…………………………………………………………………23
1.14 Peran ajaran agama bagi masyarakat…………………………………………………………………………24
 
Daftar Pustaka
 
 
BAB I
PENGEMBANGAN DIRI DALAM AJARAN AGAMA DAN ETIKA
 
    1. Pengembangan Diri
Pengembangan diri adalah proses pembentukan dan perwujudan dari yang kebiasannya jelek menjadi kebiasaan yang lebih baik lebih lengkapnya mungkin bisa seperti ini yaitu proses yang dilakukan mewujudkan dirinya menjadi yang terbaik berdasarkan potensi (kemampuan) di semua bidang sehingga berdampak manfaat buat banyak orang.
 
Pengertian Pengembangan diri
Pengembangan diri adalah Individu-individu yang mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan-kemampuan mereka melalui usaha-usaha yang diarahkan olehdiri mereka sendiri.
 
    1. Tujuan Pengembangan Diri
Tujuan Umum Pengembangan Diri
Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi dan perkembangan peserta didik, dengan memperhatikan kondisi sekolah/madrasah.
 
Tujuan Khusus Pengembangan Diri
Pengembangan diri bertujuan menunjang pendidikan peserta didik dalam mengembangkan :
  1. Bakat
  2. Minat
  3. Kreativitas
  4. Kompetensi dan kebiasan dalam kehidupan
  5. Kemampuan kehidupan keagamaan
  6. Kemampuan sosial
  7. Kemampuan  belajar
  8. Wawasan dan perencanaan karir
  9. Kemampuan pemecahan masalah
  10. Kemandirian
 
    1. Aspek dalam mengembangkan diri yaitu:
  • Kesadaran Diri
Di mana semua manusia harus mengenal dirinyadan benar-benar sadar akan kemampuan dirinya, kekurangan maupun kelebihan dirinya. Semua orang harus mengintrospeksi diriagar mengetahui secara pasti akan kemampuan dan ketidakmampuan diri.
 
  • Pengaturan Diri
Di mana semua orang harus mampu mengatur dirinya dalam belajar, bekerja, dan juga mengembangkan kemampuan dirinya. Harus ada manajemen diri, agar semuanyabisa diatur, dikelola, diarahkan dengan baik, guna mencapai tujuan yang direncanakan.
 
  • Pembiasaan Diri
Semua rencana, niat, yang mau dijalankan harus dilakukan dengan pembiasaan diri untuk melakukan sesuatu yang direncanakan tsb. Apabila suatu rencana setelah ditetapkan selanjutnya diterapkan secara menerus yang akhirnya akan menjadisuatu kebiasaan, dan kebiasaan ini akan menjadi budaya. Apabila sudah menjadi budaya tentu semua yang baik akan berbuah sukses. good habit create success.
 
  • Evaluasi Diri
Semua aktivitas dan tindakan harus selalu dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana tindakan itu benar atau salah,sesuai atau tidak sesuai. Dari umpan balik yang diperoleh dari evaluasi tentu bisa memperbaiki situasi atau tindakan yangmungkin sudah berubah arah dan tujuannya.
 
1.4  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Nilai adalah suatu ukuran atau parameter terhadap suatu obyek tertentu. Nilai dapat diartikan sebagai ukuran baik atau buruknya sesuatu. Bisa juga diartikan sebagai harga (value) dari sesuatu. Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya, adat kebiasaan dan sopan santun (sutikna, 1988:5).
Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai ada masa remaja adalah sebagai berikut :
1.      Diri Sendiri
Setiap orang memiliki ukuran baik atau buruk sesuatu dengan sudut pandang orang tersebut terhadap sesuatu, sehingga jika si A menganggap bersendawa setelah makan itu adalah baik, belum tentu si B menganggap hal tersebut juga prilaku yang baik. Jadi, setiap orang memiliki penilaian tersendiri terhadap sesuatu yang akan diwujudkan dalam tingkah lakunya. Hal ini termasuk dalam sikap normative, yaitu nilai merupakan suatu keharusan yang menuntut diwujudkan dalam tingkah laku. Misalnya: nilai kesopanan dan kesedrhanaan, orang yang selalu bersikap sopan akan selalu berusaha menjaga tutur kata dan sikapnya sehingga dapat membedakan tindakan yang baik dan yang buruk. Dengan kata lain, nilai-nilai perlu dikenal terlebih dahulu, kemudian dihayati dan didorong oleh moral, baru kemudian akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut. Dalam masa remaja, mereka menganggap diri mereka adalah benar dan apa yang mereka yakini pun adalah benar.
 
2.      Teman/Orang Terdekat
Pengaruh dari orang lain juga berperan dalam terwujudnya suatu nilai. Teman atau orang terdekat biasanya memiliki suatu paham dan sifat yang hampir sama satu sama lainnya. Dalam pertemanan biasanya mudah untuk saling memahami dan memberikan penanaman suatu paham ke teman lainnya dan orang tersebut akan menganggap suatu paham yang ditanam padanya adalah benar. Ini dikarenakan dalam pertemanan mereka akan saling mempercayai satu sama lainnya. Misalnya: si A berjalan didepan orang yang lebih tua yang sedang duduk tanpa member hormat (membungkuk sedikit), lalu teman terdekatnya yang melihat itu mengatakan bahwa hal tersebut tidak baik untuk dilakukan dan merupakan hal yang tidak sopan. Seharusnya kita melewati orang yang lebih tua, sebaiknya membungkuk sedikit (memberi hormat kepada yang lebih tua). Sehingga setelah diberikan pemahaman, si A mengerti dam melakukan apa yang dikatakan temannya tersebut. Pada masa remaja, seseorang akan lebih percaya atau memiliki hubungan yang lebih dekat dengan temannya dibandingkan hubungan dengan keluarganya. Mereka lebih sering bersosialisai dengan temannya sehingga penanaman nilai akan mudah terserap dan ditanam pada diri remaja tersebut.
 
3.      Pergaulan
Pergaulan yang memberikan pengaruh yang baik akan mewujudkan suatu nilai yang baik pula dan sebaliknya. Didalam pergaulan terdapat interaksi nilai yang dianut seseorang. Bisa saja nilai yang dulu dianggap baik dapat berubah menjadi nilai yang buruk setelah interaksi atau penglihatan yang dialaminya dalam pergaulan. Tetapi itu tergantung dari remaja tersebut, apakah ia bertahan terhadap nilai yang telah dianutnya atau akan merubahnya. Didalam perkembangan, hal ini mungkin saja terjadi. Misalnya menceritakan hal-hal yang buruk/kejelekan orang lain. Yang dulunya dianggap biasa saja, setelah pergaulan yang membawa nilai positif melalui pembelajaran nilai tersebut berubah menjadi buruk. Pergaulan pada masa remaja turut menentukan nilai yang dianutnya. Pergaulan menjadi hal yang penting pada masa remaja. Pada saat itu pergaulan menentukan sikap/tingkah laku dari nilai yang dan seseorang. Pergaulan yang baik akan menciptakan nilai yang baik dan sebaliknya. Remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak yang sangat rawan dalam penentuan nilai. Ditekankan sekali lagi bahwa pada masa remaja, seseorang lebih sering berinteraksi dengan temannya dalam bentuk pergaulan disbanding dengan keluarganya.
 
4.      Teknologi
Pengaruh dari kecanggihan teknologi juga memiliki pengaruh kuat terhadap terwujudnya suatu nilai. Di era sekarang, remaja banyak menggunakan teknologi untuk belajar maupun hiburan. Contoh : internet memiliki fasilitas yang menwarkan berbagai informasi yang dapat diakses secara langsung. Remaja dan internet. Nilai positifnya, ketika remaja atau siswa mencari bahan pelajaran yang mereka butuhkan mereka dapat mengaksesnya dari internet. Namun internet juga memiliki nilai negative seperti tersedianya situs porno yang dapat merusak moral remaja. Apalagi pada masa remaja memiliki rasa keingintahuan yang besar dan sangat rentan terhadap informs sperti itu. Mereka belum bisa mengolah pikiran secara matang yang akhirnya akan menimbulkan berbagai tindak kejahatan seperti pemerkosaan dan hamil di luar nikah/hamil usia dini.
 
5.      Lingkungan / Masyarakat
Kenyamanan dalam bertempat tinggal memiliki peran yang besar dalam pembentukan nilai individu. Remaja yang memiliki potensi tersosialisasi baik akan pandai berteman dan memiliki tenggang rasa yang kuat. Hal ini didukung oleh lingkungan yang mendukung pula. Maka akan terwujud nilai kesejaheraan yang baik. Bagi remaja hal ini akan berguna untuk mewujudkan rasa percaya diri dan bersosialisasi yang baik kepada masyarakat.
  1.  Identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model. Maksudnya     mengikuti sikap dan prilaku yang dianggapnya sebagai idola.
  2. Hubungan anak dengan orangtuanya.
  3. Adanya kontrol dari masyarakat yang mempunyai sanksi-sanksi tersendiri buat pelanggar-pelanggarnya.
  4. Unsur Lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu.
  5. Aktivitas-aktivitas anak remaja yang diperankannya.
 
1.5 Upaya-upaya Sekolah Dalam Rangka Mengembangkannya
Di lingkungan sekolah, seseorang mempelajari hal-hal baru yang belum pernah mereka temukan, baik di lingkungan keluarga maupun kelompok bermain. Pendidikan formal mempersiapkan seorang anak menguasai peranan-peranan baru di kemudian hari, manakala tidak lagi tergantung pada orang tuanya. Apabila seorang anak memasuki lingkungan sekolah, maka secara resmi ia menjadi anggota kelompok formal yang terikat aturan-aturan resmi dan dihadapkan pada norma-norma yang diikuti secara teratur dengan sanksi tertentu. Norma-norma sekolah harus dijalankan penuh disiplin, misalkan ketepatan waktu masuk sekolah, waktu belajar, waktu pulang, dan ketertiban berpakaian. Selain mengenal peraturan sekolah, anak juga dibimbing untuk mengenal aturan-aturan dalam kehidupan masyarakat.
 
Menurut Horton, fungsi nyata dari pendidikan yaitu:
  1. Sebagai modal penting dalam menentukan mata pencaharian.
  2. Dapat menunjang peseta didik untuk mengembangkan minat, bakat, kompetensi, kebiasaan, kemampuan, kreativitas, kemandirian, dan problem solving atau pemecahan masalah demi pemenuhan kebutuhan pribadi dan pengembangan masyarakat.
  3. Melestarikan kebudayaan dengan cara mewariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
  4. Membentuk karakterdan  kepribadian siswa.
Bentuk-bentuk pelaksanaan kegiatan pengembangan diri di sekolah, antara lain:
1.  Kegiatan pengembangan diri secara terprogram dilaksanakan dengan perencanaan khusus dalam  kurun waktu tertentu  untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individual,  kelompok melalui penyelenggaraan:
a.  Kegiatan layanan bimbingan dan konseling
Tujuan layanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu agar siswa:
  • Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang;
  • Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
  • Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannnya;
  • Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan.
b.  Kegiatan ekstrakurikuler  antara lain kegiatan:
  • Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan  Pengibar Bendera  (PASKIBRA)
  • Seni  dan budaya, olahraga, cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan
  • Seminar, lokakarya, pameran/bazar

2.  Kegiatan  pengembangan diri secara tidak terprogram dapat dilaksanakan sebagai
berikut:
a.  Rutin, adalah kegiatan yang dilakukan secara terjadwal dan terus menerus, seperti: upacara bendera, senam, berdoa bersama, pemeliharaan kebersihan dan kesehatan diri.
b. Spontan, adalah kegiatan  tidak terjadwal dalam  kejadian khusus seperti:
pembentukan perilaku memberi salam, membuang  sampah pada tempatnya, antri, mengatasi  silangpendapat (pertengkaran). 
c.Keteladanan, adalah kegiatan dalam bentuk  perilaku sehari-hari yang dapat dijadikan teladan,  seperti: berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu.
1.6 Kemampuan Diri
Kemampuan diri adalah kecakapan atau potensi seseorang individu untuk menguasai keahlian dalam melakukan atau mengerjakan beragam tugas dalam suatu pekerjaan atau suatu penilaian atas tindakan seseorang.
Pada dasarnya kemampuan terdiri atas dua kelompok faktor (Robbin,2007:57) yaitu:
1. Kemampuan intelektual (intelectual ability) yaitu kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktifitas mental-berfikir, menalar dan memecahkan masalah.
2. Kemampuan fisik (physical ability) yaitu kemampuan melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, keterampilan, kekuatan, dan karakteristik serupa.
 
Salah satu aspek yang mempengaruhi pengembangan diri adalah salah satunya yaitu kemampuan diri yang terdiri dari:
  • Physical Quotient (PQ)
  • Mental/Intelligence Quotient (IQ)
  • Emotional Quotient (EQ)
  • Spiritual Quotient (SQ).
 
  1. Physical Quotient (PQ)
Physical Quotient yaitu kecerdasan yang terkandung dan dimiliki tubuh yang tidak diatur manusia.  Segala hal yang dilakukan tubuh tanpa upaya sadar dari pihak manusia. Semua bentuk kontrol tubuh tanpa perintah sadar manusia adalah kecerdasan tubuh. Beberapa bentuk kecerdasan tubuh, antara lain:
  • Menjalankan sistem pernapasan tanpa kita perintah.
  • Sistem peredaran darah.
  • Sistem syaraf, dan lain-lainnya.
 
Cara mengembangkan atau menjaga kecerdasan tubuh antara lain: nutrisi yang cukup, olahraga, istirahat, kemampuan manajemen stress, dan pola pikir
 
  1. Intelligence Quotient (IQ)
Intelligence Quotient yaitu kemampuan manusia melakukan analisis, berpikir, menentukan hubungan sebab akibat, berpikir abstrak, kemampuan menggunakan bahasa, memvisualisasi sesuatu, dan memahami sesuatu.
 
Cara mengembangkannya: disiplin, pendidikan (lanjut), pembelajaran terus menerus, memelihara kesadaran diri, belajar dengan mengajar dan melakukan apa yang diajarkan.
 
  1. Emotional Quotient (EQ)
 
Emotional Quotient (EQ) adalah kemampuan manusia untuk mengenal diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, empati, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Kecerdasan emosional adalah kepekaan tentang waktu yang tepat, kepatutan secara sosial, menyatakan dan menghormati perbedaan.
 
Kecerdasan emosional sangat menentukan akurasi keberhasilan dalam komunikasi dan dalam kepemimpinan seseorang, melampaui IQ.
 
Cara mengembangkannya adalah: kesadaran diri, motivasi pribadi, pengendalian diri, empati, dan keahlian/komunikasi sosial.
 
  1. Spiritual Quotient (SQ)
Spiritual Quotient kemampuan manusia akan makna, visi, dan nilai hidup dalam hubungan dengan yang tak terbatas. Spiritual Quotient  membimbing tiga kecerdasan sebelumnya.
Spiritual Quotient  membuat manusia benar-benar manusiawi.
Cara mengembangkannya: Membuat dan memenuhi janji, mendidik dan mematuhi hati nurani, menemukan suara anda, mengilami orang lain menemukan suaranya.
Suara adalah potensi tertinggi, panggilan, panggilan hidup, arah hidup dan panggilan jiwa.
 
1.7 Hambatan dalam pengembangan potensi diri
Untuk mencapai suatu prestasi tidak semudah apa yang kita bayangkan. Setiap usaha yang kita lakukan selalu ada hambatan.Kita harus bisa meminimalkan hambatan yang sering menjadikan kegagalan agar potensi diri dapat berkembang sesuai yang diharapkan. Hambatan-hambatan yang sering muncul dalam pengembangan potensi diri adalah sebagai berikut:
a. Hambatan yang berasal dari diri sendiri.
Hambatan yang lahir dari diri sendiri seseorang meliputi tidak ada tujuan jelas, adanya prasangka buruk, khawatir terhadap atau mendengarkan perkataan orang lain, tidak mau mengenal diri sendiri, tidak memiliki sikap sabar, ada perasaan takut gagal, kurang motivasi diri, bersikap tertutup dan sebagainya.
 
b. Hambatan dari luar diri sendiri
Hambatan yang datangnya dari luar diri sendiri meliputi lingkugan keluarga, lingkungan kerja, lingkungan bermain, budaya masyarakat, sistem pendidikan, dan sebagainya.
 
Dalam upaya mengembangkan potensi diri untuk meraih prestasi, kita harus selalu mengembangkan sikap sebagai berikut:
  1. Berdoa kepada Tuhan
Sebagai makhluk yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan sebelum melakukan suatu aktifitas terlebih dahlu harus berdoa kepada Tuhan. Dengan berdoa diharapkan apa yang kita lakukan akan berhasil dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
  1. Mengenal potensi diri
Sebagai makhluk individu dalam pengembangan potensi diri perlu mengetahui akan kekurangan dan kelebihan pada diri kita. Dengan mengetahui akan diri kita sendiri apa yang akan kita lakukan dapat bermanfaat dalam hidup.
  1. Belajar secara teratur
Dengan belajar secara teratur dapat memberikan dorongan untuk meraih cita-cita hidup. Sebagai seorang pelajar untuk mendapat prestasi yang tinggi harus belajar secara teratur. Kebiasaan gemar membaca akan menambah wawasan yang luas. Selain itu, kita akan memperoleh berbagai pengetahuan yang bermanfaat dalam kehidupannya.
  1. Tidak putus asa
Dalam mengembangkan potensi diri, kita harus menyadari bahwa di sekeliling kita banyak hambatannya. Supaya cita-cita kita berhasil harus menyadari akan kelebihan ataupun kekurangan yang berada pada diri kita masing-masing.
 
  1. Menetapkan cita-cita
Seorang pelajar akan berhasil dalam belajarnya jika telah menetapkan cita-citanya. Cita-cita yang ditetapkan harus diusahakan dapat terwujud dengan baik
 
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Tidak sedikit remaja yang bimbang dan ragu dengan agama yang diterimanya,,W. Sturbuck meneliti mahasiswa Middle Burg College. Dari 142 remaja yang berusia 11-26 tahun, terdapat 53% yang mengalami keraguan tentang:
a) Ajaran agama yang mereka terima.
b) Cara penerapan ajaran agama.
c) Keadaan lembaga-lembaga keagamaan.
d) Para pemuka agama
 
Menurut analisis yang dilakukan W.Starbuck, keraguan itu disebabkan oleh faktor:
1. Kepribadian
Tipe kepribadian dan jenis kelamin, bisa menyebabkan remaja melakukan salah tafsir terhadap ajaran agama.
  • Bagi individu yang memiliki kepribadian yang introvert, ketika mereka mendapatkan kegagalan dalam mendapatkan pertolongan Tuhan, maka akan menyebabkan mereka salah tafsir terhadap sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Tuhan. Misalnya: Ketika berdoa tidak terkabul, maka mereka akan menjadi ragu akan kebenaran sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang Tuhan tersebut. Kondisi ini akan sangat membekas pada remaja yang introvert walau sebelumnya dia taat beragama.
  • Untuk jenis kelamin wanita yang cepat matang akan lebih menunjukkan keraguan pada ajaran agama dibandingkan pada laki-laki cepat matang.
 
2. Kesalahan Organisasi Keagamaan dan Pemuka Agama
Kesalahan ini dipicu oleh “dalam kenyataannya,,terdapat banyak organisasi dan aliran-aliran keagamaan”. Dalam pandangan remaja hal itu mengesankan adanya pertentangan dalam ajaran agama. Selain itu remaja juga melihat kenyataan “Tidak tanduk keagamaan para pemuka agama yang tidak sepenuhnya menuruti tuntutan agama”.
 
3. Pernyataan Kebutuhan Agama
Pada dasarnya manusia memiliki sifat konservatif (senang dengan yang sudah ada), namun disisi lain manusia juga memiliki dorongan ingin tahu.
Kedua sifat bawaan ini merupakan kenyataan dari kebutuhan manusia yang normal. Apa yang menyebabkan pernyataan kebutuhan manusia itu berkaitan dengan munculnya keraguan pada ajaran agama?
Dengan dorongan ingin tahu, maka remaja akan terdorong untuk mempelajari/mengkaji ajaran agamanya. Jika dalam pengkajian itu terdapat perbedaan-perbedaan atau terdapat ketidaksejalanan dengan apa yang telah dimilikinya (konservatif) maka akan menimbulkan keraguan.
 
4. Kebiasaan
Remaja yang sudah terbiasa dengan suatu tradisi keagamaan yang dianutnya akan ragu untuk menerima kebenaran ajaran lain yang baru diterimanya/dilihatnya.
 
5. Pendidikan
Kondisi ini terjadi pada remaja yang terpelajar. Remaja yang terpelajar akan lebih kritis terhadap ajaran agamanya. Terutama yang banyak mengandung ajaran yang bersifat dogmatis.Apalagi jika mereka memiliki kemampuan untuk menafsirkan ajaran agama yang dianutnya secara lebih rasional.
 
6. Percampuran Antara Agama dengan Mistik
Dalam kenyataan yang ada ditengah-tengah masyarakat,,kadang-kadang tanpa disadari ada tindak keagamaan yang mereka lakukan ditopangi oleh mistik dan praktek kebatinan. Penyatuan unsur ini menyebabkan remaja menjadi ragu untuk menentukan antara unsur agama dengan mistik.
 
Keraguan yang dialami remaja dalam bidang agama dapat memicu konflik dalam diri remaja.Bentuk dari konflik itu “Remaja akan dihadapkan kepada pemilihan antara mana yang baik dan yang buruk serta antara yang benar dan salah”.
 
Jenis konflik yang memungkinkan dialami remaja:
a)  Konflik yang terjadi antara percaya dan ragu.
b)  Konflik yang terjadi antara pemilihan satu diantara dua macam agama atau antara dua   ide keagamaan atau antara dua lembaga keagamaan.
c)  Konflik yang terjadi oleh pemilihan antara ketaatan beragama atau sekuler.
d) Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan kehidupan keagamaan yang didasarkan atas petunjuk Ilahi.
 
Dalam rangka membantu remaja (siswa) dalam mengokohkan atau memantapkan keimanan dan ketakwaannya, maka sekolah setidaknya melakukan upaya-upaya berikut :
1.  Pimpinan (kepala sekolah dan para wakilnya), guru-guru, dan personel sekolah lainnya harus sama-sama mempunyai terhadap program pendidikan agama atau penanaman nilai-nilai agama di sekolah, baik melalui :
a) Proses belajar-mengajar di kelas
b)Bimbingan (pemaknaan hikmah hidup beragama/beribadah, pemberian dorongan, contoh/teladan baik dalam bertutur kata, berprilaku, berpakaian, maupun melaksankan ibadah)
2. Guru agama setidaknya memiliki kepribadian yang mantap, pemahaman dan ketrampilan professional, serta kemampuan dalam mengemas materi pembelajaran, sehingga mata pelajaran agama menjadi menarik dan bermakana bagi remaja.
3.  Guru-guru menyisipkan nilai-nilai agama ke dalam mata pelajaran yang diajarkannya , sehingga siswa memiliki apresiasi yang positif terhadap nilai-nilai agama.
4.  Sekolah menyediakan sarana ibadah sebagai laboratorium rohaniah yang cukup memadai, serta memfungsikannya secara maksimal.
5.  Menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler kerohanian, pesantren kilat, ceramah-ceramah keagamaan, atau diskusi keagamaan secara rutin.
6.  Bekerja sama dengan orangtua siswa dalam membimbing keimanan dan ketakwaan siswa.

1.8 Fungsi Keluarga Dalam Pengembangan Diri
Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi pokok yang sulit diubah dan digantikan oleh orang atau lembaga lain tetapi karena masyarakat sekarang ini telah mengalami perubahan, tidak menutup kemungkinan sebagian dari fungsi sosial keluarga tersebut mengalami perubahan. Dalam pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga tersebut akan banyak dipengaruhi oleh ikatan-ikatan dalam keluarga, hal ini sesuai dengan yang dikatakan MI Solaeman (1978:18) bahwa : “Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi yang pokok, yaitu fungsi-fungsi yang tidak bisa dirubah dan digantikan oleh orang lain, sedangkan fungsi-fungsi lain atau fungsi-fungsi sosial relatif lebih mudah berubah atau mengalami perubahan”.
 
Mengenal fungsi keluarga Abu Ahmadi (1991:247) mengemukakan bahwa tugas atau fungsi keluarga bukan merupakan fungsi yang tunggal tetapi jamak. Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa fungsi kelurga adalah : Menstabilkan situasi keluarga dalam arti stabilisasi situasi ekonomi keluarga; Mendidik; Pemelihara fisik dan psikis keluarga, termasuk disini kehidupan religius.
 
Mengenai fungsi keluarga, khususnya tanggung jawab orang tua terhadap anaknya Singgih P Gunarsa (1991:54) mengemukakan sebagai berikut : “Tanggung jawab orang tua ialah memenuhi kebutuhan-kebutuhan si anak baik dari sudut organis-Psikologis, antara lain makanan, maupun kebutuhan-kebutuhan psikis seperti kebutuhan-kebutuhan akan perkembangan, kebutuhan intelektual melalui pendidikan, kebutuhan rasa dikasihi, dimengerti dan rasa aman melalui perawatan asuhan ucapan-ucapan dan perlakuan”.
 
Dari konsep tersebut diterangkan bahwa diantaranya peran orang tua ini sangat penting sekali terhadap pemenuhan kebutuhan intelektual bagi anak melalui pendidikan.Hal ini merupakan tanggung jawab orang tua harus diberikan kepada anaknya sehingga orang tua ditekankan harus mengerti akan fungsi keluarga dan tentunya pemahaman tentang pendidikan. Ini harus benar-benar dirasakan oleh orang tua sampai mampu berkeinginan untuk melanjutkan sekolah anaknya ke yang lebih tinggi sehingga wawasan dan pemahaman anak bisa lebih luas.
 
Selain dari pendapat diatas mengenai fungsi keluarga ini menurut MI Soelaeman mengatakan sebagai berikut :
 
  • Fungsi Edukatif – Sebagai suatu unsur dari tingkat pusat pendidikan, merupakan lingkungan pendidikan yang pertama bagi anak. Dalam kedudukan ini, adalah suatu kewajaran apabila kehidupan keluarga sehari-hari, pada saar-saat tertentu terjadi situasi pendidikan yang dihayati oleh anak dan diarahkan pada perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
 
  • Fungsi Sosialisasi – Melalui interaksi dalam keluarga anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita serta nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka pengembangan kepribadiannya. Dalam rangka melaksanakan fungsi sosialisasi ini, keluarga mempunyai kedudukan sebagai penghubung antara anak dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial yang meliputi penerangan, penyaringan dan penafsiran ke dalam bahasa yang dimengerti oleh anak.
 
  • Fungsi protektif – Fungsi ini lebih menitik beratkan dan menekankan kepada rasa aman dan terlindungi apabila anak merasa aman dan terlindungi barulah anak dapat bebas melakukan penjajagan terhadap lingkungan.
 
  • Fungsi Afeksional – Yang dimaksud dengan fungsi afeksi adalah adanya hubungan sosial yang penuh dengan kemesraan dan afeksi. Anak biasanya mempunyai kepekaan tersendiri akan iklim-iklim emosional yang terdapat dalam keluarga kehangatan yang terpenting bagi perkembangan keperibadian anak
 
  • Fungsi Religius – Keluarga berkewajiban mmperkenalkan dan mengajak anak serta keluarga pada kehidupan beragama. Sehingga melalui pengenalan ini diharapkan keluarga dapat mendidik anak serta anggotanya menjadi manusia yang beragama sesuai dengan keyakinan keluarga tersebut.
 
  • Fungsi Ekonomis – Fungsi keluarga ini meliputi pencarian nafkah, perencanaan dan pembelanjaannya. Pelaksanaanya dilakukan oleh dan untuk semua anggota keluarga, sehingga akan menambah saling mengerti, solidaritas dan tanggung jawab bersama.
 
  • Fungsi Rekreatif – Suasana keluarga yang tentram dan damai diperlukan guna mengembalikan tenaga yang telah dikeluarkan dalam kehidupan sehari-hari
 
  • Fungsi Biologis – Fungsi ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologis keluarga, diantaranya kebutuhan seksual. Kebutuhan ini berhubungan dengan pengembangan keturunan atau keinginan untuk mendapatkan keturunan. Selain itu juga yang termasuk dalam fungsi biologis ini yaitu perlindungan fisik seperti kesehatan jasmani dan kebutuhan jasmani yaitu dengan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan akan mempengaruhi kepada jasmani setiap anggota keluarga.
 
Dari uraian mengenai fungsi-fungsi keluaga diatas, maka jelaslah bahwa fungsi-fungsi ini semuanya memegang peranan penting dalam keluarga, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan individu yang menjadi anggota keluarganya. Untuk itu dalam penerapannya hendaknya fungsi-fungsi tersebut berjalan secara seimbang, karena akan membantu keharmonisan serta kehidupan keluarga. Pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga ini disertai dengan suasana yang baik serta fasilitas yang memadai.
 
1.9 Hubungan manusia dan agama
Manusia adalah makluk ciptaan tuhan yang paling sempurna di banding kan makluk ciptaan tuhan yang lain nya. Manusia merupakan makluk tuhan yang memiliki tuntutan untuk menyebab dan bersyukur atas segala sesuatu  yang telah di ciptakan sehingga manusia dapat bertahan hidup dan melestarikan populasinya. Manusia memiliki kepercayaan yang berbeda-beda. Walaupun kepercayaan manusaia banyak yang  berbeda  tetapi dari keseluruh kepercayaan , kepercayaan tersebut memiliki satu tujuan yang jelas. Keprcayaan  dan agama memberikan segala sesuatu penjelasan bahwa manusia adalah makhluk yang harus bersyukur kepada dia dan memiliki potensi untuk bersikap baik atau buruk , bersikap jujur atau dusta  dan dalam diri manusia selalu terdapat  aspek hawa nafsu, seks dan rasa ingin berkuasa.
 Agama adalah pandangan dan pedoman hidup manusia , dan  menjadi kekuatan  utama dalam membentuk sejarah kehidupan manusia. Dalam hal ini manusia berpedoman  kepada agama yang mengatur semua hal yang bersangkutan dalam kehidupan dan cara bertingkah laku antar umat beragama.
 
1.10  Etika dan Agama
Etika tidak dapat menggantikan agama. Agama merupakan hal yang tepat untuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi agama itu memerlukan ketrampilan etika agar dapat memberikan orientasi, bukan sekadar indoktrinasi.  Hal ini disebabkan empat alasan sebagai berikut :
  1. Orang agama mengharapkan agar ajaran agamanya rasional. Ia tidak puas mendengar bahwa Tuhan memerintahkan sesuatu, tetapi ia juga ingin mengerti mengapa Tuhan memerintahkannya. Etika dapat membantu menggali rasionalitas agama.
  2. Seringkali ajaran moral yang termuat dalam wahyu mengizinkan interpretasi yang saling berbeda dan bahkan bertentangan.
  3. Karena perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat maka agama menghadapi masalah moral yang secara langsung tidak disinggung – singgung dalam wahyu. Misalnya bayi tabung, reproduksi manusia dengan gen yang sama.
  4. Adanya perbedaan antara etika dan ajaran moral. Etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional semata-mata sedangkan agama pada wahyunya sendiri. Oleh karena itu ajaran agama hanya terbuka pada mereka yang mengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan pandangan dunia.
 
1.11 Istilah berkaitan
Kata etika sering dirancukan dengan istilah etiket, etis, ethos, iktikad dan kode etik atau kode etika. Etika adalah ilmu yang mempelajari apa yang baik dan buruk. Etiket adalah ajaran sopan santun yang berlaku bila manusia bergaul atau berkelompok dengan manusia lain. Etiket tidak berlaku bila seorang manusia hidup sendiri misalnya hidup di sebuah pulau terpencil atau di tengah hutan.
 
Etis artinya sesuai dengan ajaran moral, misalnya tidak etis menanyakan usia pada seorang wanita. Ethos artinya sikap dasar seseorang dalam bidang tertentu. Maka ada ungkapan ethos kerja artinya sikap dasar seseorang dalam pekerjaannya, misalnya ethos kerja yang tinggi artinya dia menaruh sikap dasar yang tinggi terhadap pekerjaannya. Kode atika atau kode etik artinya daftar kewajiban dalam menjalankan tugas sebuah profesi yang disusun oleh anggota profesi dan mengikat anggota dalam menjalankan tugasnya.
 
1.12 Hubungan Etika dan Agama
Etika dalam pandangan Magnis Suseno adalah “ usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya fikirnya untuk menyelesaikan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik. Itulah sebabnya mengapa justru kaum agama diharapkan betul-betul memakai rasio dan metode-metode etika.” Tetapi sebaliknya memutlakkan etika tanpa agama adalah berbahaya. Ini yang dikatakan A.SudiarjaSJ bahwa etika bisa merendahkan atau cenderung mengabaikan kepekaan rasa, kehalusan adat kebiasaan,konvensi sosial dan sebagainya. Bahkan bahaya formalisme bisa terjadi, berpikir baik buruk secara moral tetapi tidak mampu menjalankannya. Etika bisa menjadi ilmu yang kering dan mandul yang mempunyai kebenaran tetapi kurang mampu dilaksanakan.
 
Akhirnya kita hanya bisa menjadi pejuang moral di mana kita sendiri tidak memaknai apa yang sedang kita perjuangkan. Kita kritis terhadap tindakan moral tetapi kita sendiri sulit untuk melakukan apa yang di kritisi. Sebaliknya manusia yang hanya mengandalkan agama tanpa etika maka merekapun cenderung akan menjadi budak absolut kebenaran pada agamanya. Nietzsche menyebutnya “Moral Budak-budak”. melihat sesamanya hanyalah wajah yang tidak bermakna, yang akhirnya hanya bertindak berdasarkan kebenaran agamanya dan inilah yang terjadi dengan beberapa kelompok massa di Indonesia seperti FPI (Front Pembela Islam) yang menganggap kebenaran hanyalah milik satu agama. Atau seperti kelompok teroris yang menganggap doktrin mereka tidak pernah salah dan telah berada di jalan yang benar, sehingga membunuh orang tidak berdosa pun menjadi halal bagi mereka.
 
Apakah Etika itu?
Sebelum lebih jauh kita membahas tentang hubungan etika dan agama, atau mencari titik temu diantara keduanya, maka ada baiknya kita memahami apa etika itu. Memahami etika pertama-tama perlu untuk membedakannya dengan moral. Etika lebih pada prinsip-prinsip dasar baik buruknya perilaku manusia, sedangkan moral untuk menyebut aturan yang lebih kongkrit. Ibaratnya ajaran moral merupakan petunjuk bagaimana kita harus bertindak sedangkan etika adalah bagaimana memberi penilaian terhadap tindakan kita. A.Sudiarja SJ menyebut “etika sebagai filsafat moral, karena objek pengamatannya adalah pandangan dan praksis moral.” Sedangkan Sudarminta menyebut objek material etika adalah tingkah laku atau tindakan manusia; sedangkan objek formalnya adalah segi baik buruknya atau benar salahnya tindakan tersebut berdasarkan norma moral.
 
Secara sederhana etika dapat dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari secara sistematis tentang moralitas dan memberi penilaian terhadap tindakan moral. Meskipun demikian etika dalam pandangan Magnis Suseno bahwa dia tidak mempunyai pretensi untuk secara langsung dapat membuat manusia menjadi lebih baik. Dengan demikian etika dapat juga dikatakan sebagai sebuah pandangan filosofis dalam melihat perilaku manusia. Perilaku tersebut tercermin dalam tindakan moralnya. Sehingga seseorang tidak perlu beretika untuk membuat tindakan moral. Moral merupakan tindakan yang tidak terikat oleh apapun, termasuk agama. Orang bisa betindak moral tanpa harus beragama dan sebaliknya orang beragama bisa bertindak amoral.
 
Masih adakah tindakan moral yang otonom? Sebuah pertanyaan yang menjadi pergumulan kita sekarang ini, benarkah ada tindakan moral yang tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang eksternal? Benarkah masih ada keberanian moral yang berdasarkan suara hati? Pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang sulit dijawab, karena pada kenyataannya situasinya menjadi berbeda, bahwa sebagian manusia bertindak berdasarkan kebiasaan yang ada disekitarnya. Bertindak berdasarkan adat istiadat,bertindak berdasarkan agama, bertindak berdasarkan kepentingan politik, dan bertindak berdasarkan pergumulan sosial dll. Dalam pandangan empirisme, maka dapat dikatakan tidak ada tindakan moral yang tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang eksternal. Tentu saya tidak ingin mempertentangkan empirisme dan rasionalisme, serta tidak akan membahas terlalu jauh tentang tindakan moral, karena saya hanya ingin melihat bagaimana etika dalam praksis kehidupan manusia, serta bagaimana keterkaitannya dengan agama.
 
Mengapa manusia beragama?
Pertanyaan yang sederhana tetapi sangat mendasar untuk lebih memahami mengapa penting bicara tentang agama. Salah satu ciri khas manusia adalah dia mampu berefleksi terhadap kehidupannya. Seperti yang diungkapkan Teilhard de Chardin yang dikutip oleh Sastrapratedja bahwa “hewan mengetahui tetapi hanya manusia mengetahui bahwa ia mengetahui” kesadaran diri adalah ciri manusia, karena itu ia mampu berefleksi terhadap hidupnya. Ia mampu berefleksi terhadap kehidupan religiositanya, karena itu tidak salah jika manusia kita sebut sebagai mahluk religius. Sebagai mahluk religius, maka ia mencari yang transenden dalam dirinya, dan manusia mendapatkan itu dalam nilai-nilai agama. Jika agama tidak lagi mampu membuat manusia berefleksi terhadap hidupnya, maka agama pun ditinggalkan oleh manusia dan manusia mulai mencari keberagamaannya dalam bentuk yang berbeda.
 
Agama memberi doktrin kebenaran yang tidak mungkin diubah oleh manusia. Agama menganggapnya wahyu yang absolut, tetapi bisa ditafsirkan. Karena itu ketika agama bersentuhan dengan etika, maka ajaran agama sebagai yang absolut tidak mungkin diubah, tetapi dalam keabsolutannya etika mempunyai peran untuk menjaga para penafsir untuk tidak menjadi bias. Dengan racionalitas etika maka agama dapat dipahami dalam konteksnya. Untuk lebih memahami hubungan antara keduanya maka akan jelas dalam penjelasan selanjutnya.
 
Bagaimana Hubungan Etika dan Agama?
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa etika dan agama adalah dua hal yang tidak harus dipertentangkan. Antara etika dan agama adalah dua hal yang saling membutuhkan, atau dalam bahasa Sudiarja “agama dan etika saling melengkapi satu sama lain”. Agama membutuhkan etika untuk secara kritis melihat tindakan moral yang mungkin tidak rasional. Sedangkan etika sendiri membutuhkan agama agar manusia tidak mengabaikan kepekaan rasa dalam dirinya. Etika menjadi berbahaya ketika memutlakan racio, karena racio bisa merelatifkan segala tindakan moral yang dilihatnya termasuk tindakan moral yang ada pada agama tertentu.
 
Hubungan etika dan agama akan membuat keseimbangan, di mana agama bisa membantu etika untuk tidak bertindak hanya berdasarkan racio dan melupakan kepekaan rasa dalam diri manusia, pun etika dapat membantu agama untuk melihat secara kritis dan rasional tindakan –tindakan moral. Bahwa keberagaman agama adalah salah satu hal yang membuat kita juga menjadi sadar betapa pentingnya etika dalam kehidupan manusia. Tidak dapat kita bayangkan bagaimana kehidupan manusia yang berbeda agama tanpa etika di dalamnya. Kebenaran mungkin justru akan menjadi sangat relatif, karena kebenaran moral hanya akan diukur dalam pandangan agama kita. Diluar agama kita maka tidak ada kebenaran. Etika dapat dikatakan telah menjadi jembatan untuk mencoba menghubungkan dan mendialogkan antara agama-agama.
 
Kita dapat mengatakan bahwa etika, secara filosofis menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan agama-agama, khusunya bagi negara-negara yang majemuk seperti Indonesia. Etika secara rasional membantu kita mampu untuk memahami dan secara kritis melihat tindakan moral agama tertentu. Kita tidak mungkin menggunakan doktrin agama kita untuk melihat dan menganalisis agama tertentu. Sebuah pertanyaan menarik akan muncul, jika sekiranya agama hanya satu apakah dengan demikian etika tidak lagi dibutuhkan? Karena agama tersebut akan menjadi moral yang mutlak dalam kehidupan manusia. Kalau kita tetap memahami bahwa etika hadir untuk secara rasional membantu manusia memahami tindakan moral yang dibuatnya, maka tentu etika tetap menjadi penting dalam kehidupan manusia. Karena etika tidak akan terikat pada apakah agama ada atau tidak etika akan tetap ada dalam hidup manusia selama manusia masih menggunakan akal sehatnya dan rasionya dalam kehidupannya. Sekalipun manusia menjadi ateis, etika tetaplah dibutuhkan oleh mereka yang tidak mengenal agama.
 
Pertanyaan berikut yang akan muncul adalah apakah cukup kita beretika tanpa ber-agama? Jika kita mencoba memahami secara filosofis, maka dapat dikatakan bahwa etika tanpa agama adalah kering, sebaliknya agama tanpa etika hambar. Bahwa manusia tidak hanya diciptakan sebagai mahluk rasional, tetapi melekat dalam dirinya mahluk religius yang membuat dia mampu berefleksi terhadap kehidupannya. Karena itu agama akan membantu manusia untuk bertindak tidak hanya berdasarkan rasionya tetapi juga berdasarkan rasa yang ada dalam dirinya. Satu kesatuan antara rasio dan rasa yang melekat dalam diri manusia. Manusia bukanlah mahluk egois yang harus mengandalkan rasionya semata-mata.
 
Hubungan Agama dan etika dalam konteks etika Global
Sebuah pertanyaan menarik bagaimana etika Global melihat hubungan Agama dan Etika. Jika melihat konsep yang disampaikan oleh Hans Kung dalam Etic Global. Maka pertama–tama harus ada kesadaran setiap agama, bahwa dalam perbedaan doktrin kita tetap mempunyai persamaan-persamaan etis yang bisa mempersatukan. Untuk mempersatukan persamaan ini, maka etika mempunyai peran sangat penting didalamnya. Bahkan bisa dikatakan bahwa ketika agama-agama berbeda dalam doktrin, maka etika telah menjadi pemersatu. Perbedaan keyakinan bisa terjadi pada setiap agama, tetapi rasio melalui etika telah menjadi sarana dialog. Tidak dapat disangkal bahwa etika telah mempunyai peran sangat penting dalam mencoba untuk mendialogkan agama-agama.
 
Karena itu peran etika global dalam konteks agama-agama, sangatlah dibutuhkan. Kitapun menyadari bahwa etika tidak akan dapat menganti peran dari agama. Etika global seperti yang disampaikan oleh Hans Kung bahwa dia tidak akan pernah menggantikan Taurat, Khotbah di Bukit, Alquran, Bhagavadgita, Wacana dari Buddha atau para ungkapan Konfusius. Etika global hanya mencoba mencari titik temu diantara agama-agama dalam nilai-nilai tertentu dengan menggunakan pendekatan etika. Dengan demikian keterhubungan etika dan agama dalam etika global sangat nampak dalam pencarian nilai bersama dengan menggunakan nilai yang logis dan dapat diterima oleh semua manusia.
 
Kesimpulan dan Refleksi
Dengan penjelasan dari berbagai sudut pandang, maka dapat kita katakan bahwa hubungan etika dan agama merupakan hubungan timbal balik yang saling membutuhkan. Etika tidak dapat berjalan sendiri dengan rasionalitasnya, pun agama tidak dapat berjalan sendiri dengan doktrinnya. Etika tanpa agama menjadi kering dan agama tanpa etika menjadi hambar. Etika yang baik adalah etika yang memberi ruang terhadap kepekaan rasa dan tidak hanya mengandalkan rasio dalam bertindak. Karena etika seperti ini hanya akan mendatangkan sebuah kebenaran subjektif yang tidak bernilai, dan cenderung melupakan hakekat manusia sebagai mahluk religius. Kepekaan rasa itu terdapat dalam agama. Sebaliknya agama pun harus mengakui pentingnya etika dalam kehidupan bersama. Bahwa tanpa etika maka agama-agama akan sulit untuk mencari nilai bersama, karena masing-masing agama mempunyai doktrin sendiri-sendiri. Karena itulah etika mempunyai peran besar dalam agama-agama. Etika juga menjadi penting untuk memahami dan menilai tindakan moral secara kritis dari setiap perilaku moral manusia baik itu moral dasar,moral agama/etnis dan kesukuan , dan moral sosial.
 
Sebagai mahluk religius yang dimampukan berefleksi terhadap hidupnya, maka dia membutuhkan rasio untuk memahami kebenaran. Sebagai mahluk rasional yang membedakannya dari mahluk lain, maka dia membutuhkan spirit religiositas sehingga dia bertindak berdasarkan rasa sehingga dia ada untuk kebaikan manusia dan tidak menjadi mahluk yang egois yang melupakan eksistensi sosialnya. Serta tidak hanya menjadi mahluk yang moralis atau humanis, tetapi benar-benar melekat dalam dirinya sebagai mahluk religius dan racional
 
Manusia diberi empat kemampuan yang membedakannya dengan ciptaan lain. Empat kemampuan itu antara lain sebagai berikut.
1.  Kemampuan Akal Budi
Dengan akal budi antara lain kita dapat:
  1. Mengerti dan menyadari diri sendiri.
Manusia mengerti dan sadar bahwa dia ada, bahwa ia sedang berbuat sesuatu. Ia sadar bahwa ia sadar. Ia dapat merefleksikan kembali apa yang sedang dia buat. Hanya manusia dapat berbuat demikian, binatang tidak!
 
  1. Mengerti dan menyadari apa saja di luar dirinya.
Manusia dapat menyadari bahwa ada awan dan ada hujan, dan mencari tahu hubungan antara awan dan hujan. Manusia dapat mencari hubungan antara faktor-faktor dan membuat kesimpulan. Hewan tidak manusia dapat membuat rencana untuk masa depan, binatang tidak. Kalau mendapat dua buah apel, manusia dapat makan satu buah dan yang lainnya disimpan. Kalau babi dia akan memakan kedua-duanya.
 
  1. Manusia dapat mengembangkan dirinya, dapat membuat riwayat dan sejarah hidupnya.
Manusia dapat bertanya dan mencari jawaban. Dengan demikian, manusia dapat membuat kemajuan, dapat menetukan arah dan sejarah hidupnya.
 
  1. Manusia dapat membangun hubungan yang khas dengan sesama.
Manusia dapat bertemu dan mengalami kebersamaan dan persahabatan dengan orang lain. Karena itu, manusia menciptakan bahasa, adat istiadat, dan sebagainya.
 
2.  Kemampuan Berkehendak Bebas
Kehendak bebas berarti kemampuan untuk bertindak dengan tidak ada paksaan. Kebebasan merupakan ciri khas manusia.
  1. Dengan kehendak bebas, kita dapat bertindak dan melakukan sesuatu dengan sengaja.
Hanya manusia dapat melakukan sesuatu dengan sengaja. Melakukan dengan tahu dan mau. Hewan tidak. Hewan berbuat sesuatu karena naluri.
 
  1. Dengan kehendak bebas manusia dapat melakukan suatu tindakan dan perbuatan moral.
Tindakan moral hanya dapat dibuat oleh manusia, sebab hanya manusia dapat bertindak dengan tahu dan mau. Hewan tidak .Oleh karena itu, manusia mempunyai kewajiban-kewajiban moral.Kewajiban moral ini dibisikkan oleh hati nurani kita masing-masing. Tuhan berbicara kepada kita lewat hati nurani kita.
 
  1. Dengan kehendak bebas, kita dapat bertindak secara bertanggung jawab.
Hanya manusia dapat bertindak dengan bertanggung jawab. Hewan tidak,
 
3. Kemampuan Hati Nurani
  1. Hati nurani berfungsi sebagai pegangan, pedoman, atau norma untuk menilai suatu tindakan, apakah tindakan itu baik atau buruk.
  2. Hati nurani berfungsi sebagai pegangan atau peraturan-peraturan konkret di dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Hati nurani berfungsi menyadarkan manusia akan nilai dan harga dirinya.
 
4. Kemampuan “Menguasai”
Tuhan menyerahkan alam lingkungan ini kepada manusia untuk menguasainya. Bukan menguasainya secara sewenang-wenang, tetapi menguasainya secara bertanggung jawab. Tuhan menghendaki supaya alam ini, selain digunakan oleh manusia, supaya ditata dan dilestarikan. Kita menjadi rekan sekerja Tuhan untuk mengembangkan alam lingkungan kita. Untuk itu, kita dikurniai akal budi dan kehendak bebas.
 
1.13 Macam-macam ajaran agama di Indonesia
A. Hindu
Dasar dari ajaran agama Hindu berasal dari Kitab Suci Weda, yang merupakan Kitab Suci Agama Hindu. Para umat penganut Hindu selalu memegang teguh, ajran-ajaran yang berasal dari Kitab Suci Weda. Weda adalah sabda suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang diterima oleh para Maharesi. Keterangan ini terdapat dalam Kitab Bhumikabhasya, karya Maharesi Sayana. Resi disebut sebagai mantra drstah, yang artinya adalah orang-orang yang melihat mantra. Kitab Suci
Weda dikenal dengan berbagai nama antara lain:
  1. Kitab Sruti yang artinya bahwa Kitab Weda adalh wahyu yang diterima melalui pendengaransuci atau kemekaran intuisi para Maharesi.
  2. Kitab Rahasya, karena inti ajarannya adalah usaha mencapai tujuan hidup yang tertinggi, berupa Moksa.
3. Kitab Mantra, karena memuat nyanyi-nyanyian pujian.Dalam Kitab Weda, terdapat empat tujuan manusia. Tujuan-tujuan tersebut adalah keadilan, kekayaan, keinginan, dan pembebaasan. Namun tujuan-tujuan tersebut harus dicapai secara berpasangan: keadilan dengan kekayaan. Kekayaan harus didapatkan dengan keadialan. Lalu keinginan dengan pembebasan. Semua keinginan untuk mencapai pembebasan. Jika manusia mengambil secara terpisah, maka semuanya tidak akan didapat. (A Recapitulation of Sathya Sai Baba’s Divine Teachings oleh Grace J. Mc Martin. 1982; hlm. 12)

B. Buddha
Dasar ajaran Agama Buddha adalah Kitab suci Agama Buddha yaitu Kitab Suci Tripitaka. Kata Tipitaka (Pali) atau Tripitaka (Sansekerta) terdiri dari kata “Ti” dan “pitaka”, “ti” (tri) artinya “tiga” sedangkan “pitaka” artinya “kelopok” “atau keranjang tempat penyimpanan” ajaran Sang Buddha. Buddha membimbing umatnya memalui jalan Ariya (mulia) yang berunsur delapan, yaitu pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan meditasi benar.
 
C. Islam.
Dasar ajaran Agama Islam adalah kitab suci Agama Islam yaitu Kitab Suci Alquran. Pada sejarah tentang Agama Islam, bahwa Alquran adalah Kalam (perkataan) Alloh SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaekat Jibril dengan lafal dan maknanya (QS. 26:192-195). Alquran sebagai Kitab Allah, menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam dan berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Alqaranul Karim ialah Kalamullah (firman Alloh) yang diwahyukan kepada Rasul-Nya yang terakir (Nabi Muhammad SAW), yang dipandang dapat dibaca dan harus dijadikan pedoman hidup seluruh umat manusia sampai akhir zaman. Alquran diturunkan secara bertahab selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Nabi Mohammad SAW lahir pada tanggal 6 Agustus 610 M. Ayat Alquran pertama kali diturunkan di Mekkah pada tanggal 17 Ramadan tahun ke-41 dari kelahiran Nabi Mohammad.
 
D. Katolik
Ajaran utama Agama Katolik adalah hukum cinta kasih. Hukum tersebut mengajarkan untuk mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri, juga diajarkan untuk mencintai musuh kita, walaupun musuh tersebut telah menyakiti kita habis-habisan. Pemimpin agama katolik biasa dipanggil dengan sebutan Pastur. Hari raya umat Katolik adalah hari raya Natal. Tempat ibadah Agama Katolik adalah di Gereja. Sedangkan kitab suci Agama Katolik disebut Alkitab.
Alkitab bisa disebut Injil. Namun Injil di sini dapat dibenarkan dalam arti kabar gembira, yaitu suatu berita yang menggembirkan karena Tuhan mendatangi, menyapa, dan menyelamatkan manusia dari kuasa dosa. Alkitab dibagi menjadi dua bagian yaitu Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Pejanjian Lama, diwahyukan sebelumYesus Kristus lahir di dunia. Perjanjian Baru diwahyukan sesudah Yesus Kristus lahir di dunia. Pada Perjanjian Lama, perjanjian itu diawali dengan janji Tuhan pada Abraham. Sedangkan pada Perjajian Baru, pejanjian diadakan oleh  Yesus saat malam perjamuan terakhir.
 
E. Kristen
Ajaran, kitab suci, hari raya, dan tempat ibadah Agama Kristen, sama dengan Agama Katolik. Karena sebenarnya, Kristen adalah bagian dari Katolik. Kristen melepaskan diri dari Katolik. Karena pada jaman itu para pemuka agama katolik sering kali memanfaatkan jabatannya demi kepentingan pribadi dan untuk memuaskan hawa nafsu. Oleh karena itu, sebagian umat katolik mencoba melepaskan diri dari Katolik dan membentuk perkumpulan saat ini fungsi utama pemuka agama katolik telah kembali seperti semula.
 
F. Khonghucu
Dasar ajaran Agama Khonghucu adalah kitab sucinya yaitu ada tiga, yaitu Kitab Suci Wu Cing (Ngo King: kitab yang lima), Kitab Suci Su Si (kitab yang empat), dan Hau King (kitab Bakti).
 
Hari raya Khonghucu Adalah hari raya Imlek.Tujuan hidup yang dicita-citakan dalam Konfusianisme adalah menjadi seorang kuncu. Kuncu berarti: manusia budiman. Untuk mencapai kuncu, seseorang harus dapat menerapkan dan melaksanakan ajaran Khonghucu dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kuncu identik dengan orang yang memiliki moralitas tinggi, yang dapat mendekati  moralitas nabi.Bersumber dari kitab sucinya, terutama Su Si dan Hau King, Khonghucu sangat menekankan nilai-nilai etika baik dalam kehidupan rumah tangga, dalam kelompok jemaah seagama, maupun dalam masyarakat dan pemerintahan.
G. Aliran Kepercayaan
Aliran Kepercayaan mengajarkan pada nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam kehidupan masyarakat. Jika dalam aliran kepercayaan animisme dan dinamisme biasanya mengajarkan untuk mengagungkan suatu benda atau tempat yang memiliki kekuatan mistis. Namun, aliran ini masih tetap menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Terutama norma kesopanan.
 
Nilai-nilai ajaran Agama dalam masyarakat
Nilai yang bersumber pada kitab suci disebut nilai Agama dan nilai yang bersumber pada peradaban disebut nilai budaya. Nilai agama merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya karena bersumber dari kitab suci yang diyakini pula.
 
Menurut KBBI, agama berarti sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia serta lingkungannya. Nilai-nilai dalam ajaran agama dan kepercayaan memuat aturan-aturan yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam secara keseluruhan. Jika terjadi ketimpangan maka manusia akan mengalami ketidaknyamanan, ketidakharmonisan, ketidaktenteraman, ataupun mengalami permasalahan dalam hidupnya.
 
Nilai-nilai ajaran agama pada intinya meliputi tiga aspek, yaitu mengajarkan manusia:
  1. Untuk percaya akan adanya Tuhan YME dan Maha Kuasa yang selalu mengawasi dan memperhitungkan segala perbuatannya di dunia.
  2. Agar setiap perbuatannya senantiasa dilandasi oleh hati yang ikhlas.
  3. Untuk bersikap dan berperilaku yang baik sesuai norma yang benar dan baik.

Contoh yang nampak dari prilaku orang yang menjalankan nilai-nilai agamanya dalam hidup bermasyarakat adalah:
  1. Selalu berpikir positif sehingga tidak menimbulkan rasa iri dan kebencian terhadap orang di sekelilingnya.
  2. Selalu mengucapkan kata-kata yang benar, tidak memfitnah, dan lain-lain, sehingga bisa dipercaya, dan tidak menimbulkan pertentangan.
  3. Selalu bertindak benar, bebas dari pelanggaran-pelanggaran hukum, baik itu hukum agama, hukum adat dan hukum negara. Sehingga di manapun kita berada selalu membawa kedamaian dan tidak meresahkan orang lain.
  4. Menghormati orang tua, yang lebih tua dan menhormati orang lain
  5. Membantu orang yang membutuhkan.
  6. Gotong royong membangun tempat ibadah
  7. Menyatuni fakir miskin dan anak terlantar
 
1.14 Peran ajaran agama bagi masyarakat
  1. Sebagai salah satu sumber hukum atau dijadikan sebagai norma
  2. Mengatur tatanan sosial yang ideal sesuai fitrah manusia
  3. Memberikan contoh yang konkrid menenai kehidupan sosial – kultural manusia pada masa silam yang dapat dijadikan contoh yang sangat baik bagi bermasyarakat sekarang
Fungsi ajaran agama
  • Fungsi Edukasi   : ajaran yang mereka anut mengajarkan apa yang harus    dipatuhi
  • Fungsi Penyelamat : keselamatan yang diberikan di dua alam yaitu amalm dunia dan   akhirat
  • Fungsi Pendamai : merubah orang menjadi baik
  • Fungsi Sosial Kontrol : agama menjadi pengawas sosial
  • Fungsi Solidaritas : secara sikologis memiliki rasa yang sama atau tidak membeda-bedakan
 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.