Hubungan Antar Manusia Berdasarkan Pandangan Pribadi Saya

Manusia adalah makhluk sosial, Kita semua pasti mengetahui itu. Tidak dapat di pungkiri kita sebagai manusia memiliki hubungan saling keterikatan yang kuat antar sesama. Tidak di pungkiri pula bahwa kita juga sering beradaptasi di lingkungan yang berbeda (baru).

Manusia di tuntut untuk bisa saling menghargai satu sama lainnya. Supaya dapat membuat persatuan dan kesatuan yang kuat, tak terpecahkan. Layaknya sapu lidi, tentu tidak akan bisa di patahkan begitu saja, bila saling menyatu. Tapi sebaliknya, lidi itu akan mudah di patahkan, bila tidak bersatu dan menyatu dengan yang lainnya.

Di dalam masyarakat umum, kita sebagai manusia tentu mengetahui yang namanya ketergantungan antar sesama. Ketergantungan yang di maksud bukanlah ketergantungan yang mengandalkan orang lain, untuk menyelesaikan masalah kita, tugas kita, bahkan semua hal yang menyangkut kita.

Ketergantungan ini adalah, dimana seorang anak manusia di gambarkan tidak bisa hidup sendirian saja. Artinya, tidak ada satupun orang yang kuat, bahkan sehebat apapun tidak akan mampu hidup sendirian tanpa orang lain di sekitarnya.

Kita tentu sudah tahu dengan cerita raja Fir’aun. Dimana Fir’aun adalah orang yang terkenal hebat, bahkan mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan. Tapi jika di telisik lebih jauh, Tuhan tidak mungkin membutuhkan orang lain untuk membangun kerajaan, bahkan membutuhkan seorang pelayan kerajaan.

Itu artinya, Fir’aun hanyalah manusia biasa sama seperti kita namun di beri kelebihan oleh Tuhan. Dan secara tidak langsung pula mengingatkan kita, bahwa tidak ada manusia yang mampu hidup sendirian saja tanpa bantuan orang lain.

Sifat ketergantungan manusia di kenal sebagai sifat saling tolong menolong. Hal ini di dasari dari watak manusia atau kemampuan manusia yang terbatas. Gambaran besarnya, “tidak mungkin ada tangan kiri bila tidak ada tangan kanan.” Pernyataan itu di tujukan untuk mengingatkan kita bahwa, tangan kanan tidak mungkin bisa mengangkat beban yang berat tanpa bantuan tangan kiri.

Mungkin ada manusia yang di haruskan mempunyai satu tangan. Tapi ia memiliki anggota tubuh lainnya untuk menggantikan peran tangan lainnya yang tidak ia miliki. Mungkin bukan hanya tangan saja, bahkan anggota tubuh lainnya pun saling mendukung satu sama lainnya.

Meski manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan satu sama lain, tidak di pungkiri pula bahwa manusia sering terjebak konflik antar sesama (rekan, keluarga, masyarakat). Lalu, apa yang memicu terjadinya konflik itu?

Sekarang kita kembali pada keterangan ketergantungan umat manusia. Jika di definisikan secara luas, ketergantungan umat manusia terhadap sesamanya ini, sangatlah luas.

Jika definisi standarnya ketergantungan adalah sifat yang mengandalkan orang lain, tapi di sini mempunyai makna hal yang saling bersangkutan satu sama lainnya, dan tentu saja itu mempunyai arti yang sangat luas.

Gambaran besarnya, apa yang membuat tanaman padi menjadi beras? Tentu banyak faktor pemicunya kan, sebelum menjadi beras? Di mulai dari bibit hingga menjadi padi yang siap panen, pasti membutuhkan proses yang sangat panjang dan bahkan banyak permasalahan yang terjadi. Seperti padi di makan tikus, terkena wereng, dan sebagainya.

hubungan sosialBegitu juga umat manusia! Untuk menciptakan suatu hubungan yang baik, pasti selalu ada konflik yang akan di hadapi kedepannya. Entah itu dengan saudara, kekasih, pemerintah, atau masyarakat umum. Konflik pasti selalu ada. Karena konflik termasuk pemicu sifat ketergantungan. Dengan adanya konflik, manusia akan sadar bahwa mereka membutuhkan orang lain untuk jadi partner mereka dalam menghadapi berbagai masalah.

Sebenarnya, ada satu hal yang sering kita lupakan dalam menghadapi suatu konflik. Yaitu, kerja sama. Jika sekelompok manusia sudah mendapatkan konflik, mereka sering melupakan kerja sama yang pada dasarnya memiliki tujuan yang sama. Coba bayangkan pada sebuah pertandingan sepak bola!

Sepak bola terkenal dengan kerja sama antar timnya yang kuat. Tapi bagaimana bila dalam satu tim itu beberapa pemainnya mempunyai konflik antar rekan satu tim atau dengan pelatihnya? Pasti mereka lebih memprioritaskan kepentingan pribadi (egois) dari pada yang lain (kerja sama). Saya yakin Anda pun berfikir begitu.

Kesimpulannya, hubungan antar manusia tidaklah selalu mulus, bahkan sangat amat merepotkan. Tapi kita pun tahu bahwa kita tidak bisa dan tidak akan pernah bisa hidup sendirian saja. Untuk itu, cobalah menjadi pribadi yang lebih peka terhadap lingkungan sekitar.

Yang paling penting adalah tidak melupakan kebaikan orang lain, agar kita selalu sadar diri. Bahwa kita kuat, kita kaya, kita subur, tidak lepas dari peranan orang lain. Tidak peduli itu hasil kerja keras kita sendiri. Karena pada basic nya, manusia terlahir tidak untuk sendiri. Semoga bermanfaat!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.